Minggu, 04 November 2012

Anak: Aku Ingin Tanya Bapak.


Bapak, aku punya pertanyaan.
Lelaki yang bagaimana yang kau inginkan untukku?
Jujur aku takut memilih dan yang pada akhirnya nanti aku salah.
Bapak, lelaki itu seperti apa?
Sepertinya yang aku kenal hampir semua menakutkan,
tidak serta merta dapat dipercaya.
Apakah dulu mama berpikir seperti itu tentangmu?
Bapak, usiaku makin dewasa.
Aku bukan lagi remaja mu yang manis dipamerkan pada kolegamu.
Juga tidak lagi menjadi anak gadis mu yang harus terus kau takuti saat pulang larut.
Tapi bapak, aku masih takut jika tangan mu tak memelukku memberi rasa aman.
Bapak, pendidikanku semakin tinggi.
Aku takut akan sombong dan lupa akan hangat dan renyah tawa mu.
Bapak, aku ingin satu lelaki yang mirip dengan mu.
Menjagaku, berdebat denganku, mengimamiku, mengilhamiku, dan bermain denganku.
Bapak, aku takut menunjuk siapa orangnya.
Bukan berarti aku tak sopan menolak tawaran mu, aku hanya..bingung.
Bapak, aku ingin dia yang mampu membuat wajahku merona saat dia menyuapiku dan mengelus lembut kepalaku, seperti dirimu.
Aku juga ingin dia yang menegurku saat aku lupa berwudhu, padahal tiba waktunya untuk bersyukur pada Dia yang menitipkanku padamu.
Lelaki itu juga berkomunikasi baik denganku, bahkan saat aku tak berucap sepatah kata pun. Seperti kau yang tahu saat aku tengah jatuh cinta. Itu juga yang aku inginkan.
Dia yang mampu mengajariku ilmu hidup dan disiplin ilmu seperti para murid yang telah kau luluskan, termasuk aku.
Dia yang tahu mana yang sebaiknya aku inginkan dan mana yang aku butuhkan.
Bapak, secantik mama kah diriku?
Hingga kau terpesona luar biasa dan setia padanya hingga usia kalian sekarang.
Bisakah aku nanti seperti mama?
Bapak, banyak kah tanyaku?
Tidak bosan kah kau mendengarku?
Seperti itu juga ia yang aku inginkan menjadi pendampingku.
Bapak, masih banyak hal yang ingin aku tanyakan.
Tapi, lihatlah dengan bijaksana kau hanya menjawab sekedarnya.
Titipkan hatimu pada Dia Sang Maha Kekal.
Seperti yang selama ini Bapak lakukan, hanya menitipkan mu pada-Nya.
Penjagaan-Nya jauh lebih luas dan lugas dibanding Bapak.
Bapak hanya menjagamu dari apa yang terlihat.
Namun Dia menjagamu dengan segenap mantra Kun Fayakun-Nya.
Dialog aku dan Bapak berakhir dengan sebuah kecupan di dahiku.
Seperti yang sering beliau lakukan, bahkan saat aku malu untuk dikecup lagi.

23 Agustus 2012, di peringatan usiaku ke-22 tahun tepat saat gelar Sarjana Pendidikan tersisip setelah nama bapak ku.
Di dedikasikan untuk ayahanda Prof. Dr. H. Hammado Tantu, M. Pd.
Oleh ananda Nurul Ichsania Hammado, S. Pd.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks buat komentarx..:)