Bapak,
aku punya pertanyaan.
Lelaki
yang bagaimana yang kau inginkan untukku?
Jujur
aku takut memilih dan yang pada akhirnya nanti aku salah.
Bapak,
lelaki itu seperti apa?
Sepertinya
yang aku kenal hampir semua menakutkan,
tidak
serta merta dapat dipercaya.
Apakah
dulu mama berpikir seperti itu tentangmu?
Bapak,
usiaku makin dewasa.
Aku
bukan lagi remaja mu yang manis dipamerkan pada kolegamu.
Juga
tidak lagi menjadi anak gadis mu yang harus terus kau takuti saat pulang larut.
Tapi
bapak, aku masih takut jika tangan mu tak memelukku memberi rasa aman.
Bapak,
pendidikanku semakin tinggi.
Aku
takut akan sombong dan lupa akan hangat dan renyah tawa mu.
Bapak,
aku ingin satu lelaki yang mirip dengan mu.
Menjagaku,
berdebat denganku, mengimamiku, mengilhamiku, dan bermain denganku.
Bapak,
aku takut menunjuk siapa orangnya.
Bukan
berarti aku tak sopan menolak tawaran mu, aku hanya..bingung.
Bapak,
aku ingin dia yang mampu membuat wajahku merona saat dia menyuapiku dan
mengelus lembut kepalaku, seperti dirimu.
Aku
juga ingin dia yang menegurku saat aku lupa berwudhu, padahal tiba waktunya
untuk bersyukur pada Dia yang menitipkanku padamu.
Lelaki
itu juga berkomunikasi baik denganku, bahkan saat aku tak berucap sepatah kata
pun. Seperti kau yang tahu saat aku tengah jatuh cinta. Itu juga yang aku
inginkan.
Dia
yang mampu mengajariku ilmu hidup dan disiplin ilmu seperti para murid yang
telah kau luluskan, termasuk aku.
Dia
yang tahu mana yang sebaiknya aku inginkan dan mana yang aku butuhkan.
Bapak,
secantik mama kah diriku?
Hingga
kau terpesona luar biasa dan setia padanya hingga usia kalian sekarang.
Bisakah
aku nanti seperti mama?
Bapak,
banyak kah tanyaku?
Tidak
bosan kah kau mendengarku?
Seperti
itu juga ia yang aku inginkan menjadi pendampingku.
Bapak,
masih banyak hal yang ingin aku tanyakan.
Tapi,
lihatlah dengan bijaksana kau hanya menjawab sekedarnya.
Titipkan
hatimu pada Dia Sang Maha Kekal.
Seperti
yang selama ini Bapak lakukan, hanya menitipkan mu pada-Nya.
Penjagaan-Nya
jauh lebih luas dan lugas dibanding Bapak.
Bapak
hanya menjagamu dari apa yang terlihat.
Namun
Dia menjagamu dengan segenap mantra Kun
Fayakun-Nya.
Dialog
aku dan Bapak berakhir dengan sebuah kecupan di dahiku.
Seperti
yang sering beliau lakukan, bahkan saat aku malu untuk dikecup lagi.
23 Agustus 2012, di peringatan usiaku
ke-22 tahun tepat saat gelar Sarjana Pendidikan tersisip setelah nama bapak ku.
Di dedikasikan untuk ayahanda Prof. Dr.
H. Hammado Tantu, M. Pd.
Oleh ananda Nurul Ichsania Hammado, S.
Pd.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks buat komentarx..:)