Aku berlindung kepada Allah dari godaan
syaitan yang terkutuk…
Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…
Ini tentang anak perempuan dan lelaki
yang menduduki tempat tak tergantikan di hatinya.
Demikian
tulisan ini aku peruntukkan kepada semua anak perempuan dimana pun
keberadaannya, sekiranya setelah membaca tulisan sederhana ini, membuat mereka
lebih bijaksana dalam bersikap. Insya Allah.
Tersebutlah
seorang anak perempuan yang sedari tadi membenarkan ujung hijabnya karena dimainkan oleh angin sore. Serat-serat kain
menutupi sekujur kepalanya, berwarna cerah tak menyilaukan. Entah sudah berapa
lama ia telah menutupi auratnya sesuai anjuran agama yang diyakininya. Akan
tetapi belum lama ia meng-hijabkan hatinya, belum lama. Perjalanan yang
ditempuhnya untuk menguatkan tekad menghijabkan hati tidak-lah muda, semuanya
dilalui dengan berbagai proses. Tak urung menyebabkan air mata harus
bercucuran, ataukah batin meranggas seperti tak bertuan. Dipeluknya beberapa
tumpukan map yang telah beberapa bulan ini setia menemaninya menuju masa depan
yang lebih cerah. Pilihannya untuk meninggalkan keluarga jauh disana bukan
keputusan mudah baginya. Berjalan di tanah orang, dengan bekal seadanya,
berkawan rindu, beramunisi semangat, modal jihadnya untuk dirinya, keluarga,
dan agamanya. Seperti pepatah yang diyakininya, “Tuntutlah Ilmu Hingga ke
Negeri Cina”, mantap ia langkahkan kakinya.
Sebelumnya
ia hanyalah perempuan biasa yang sibuk dengan urusan pribadinya tanpa
menghiraukan bagaimana lelaki itu membuatnya jadi permata dalam kehidupannya.
Banyak hal yang bersifat duniawi dilakukannya untuk mengejar kepuasan dan
pencapaian yang bersifat duniawi pula. Bahkan tak jarang, kewajiban akhiratnya
tak jua dilakukannya. Alasan sibuk, tak ada waktu, belum mendapat hidayah, atau
perjalanan masih panjang adalah beberapa tipu daya sang akalnya untuk
mengelabui hati kecilnya yang kemarau akan kehadiran Tuhan.
Perlahan,
sang perempuan mulai menyadari ada yang salah dalam pola kehidupannya, tapi ia
sendiri masih tertatih menemukan apa gerangan kekurangan itu. Tak ayal ia
tanyakan pada dirinya ketika sedang meresapi kesendirian, ataukah ia diskusikan
pada kerabat-kerabat dekatnya. Ada yang menganggap itu hal biasa, ada juga yang
memberikan beberapa nasihat. Tetapi, nalurinya menuntun ia untuk mencari tahu
dengan mengaktifkan diri pada banyak majelis. Dimulai dari majelis ilmu sosial,
ilmu politik, hingga ilmu agama. Mungkin sebenarnya ia telah mengetahui apa
yang kurang tepat dalam hidupnya. Hanya saja ia terlalu takut untuk menyadari
apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tetapi Allah sungguh Maha Penolong
dan Maha Pemberi Petunjuk. Dituntunnya hidup sang perempuan menuju jalan
bercahaya. Terseok memang, tetapi semangat untuk berhijrah juga sama besarnya,
sehingga perlahan hidup sang perempuan mulai berubah. Bukankah berhijrah memang
berat? Jika tidak, maka proses bukan lagi satu nilai penting dalam kehidupan.
Dari
sekian banyak “hijrah” yang dilakukannya, ada satu yang menarik menurutku.
Suatu
ketika, sang perempuan dihinggapi rasa malas luar biasa. Malas untuk melakukan
apapun, malas untuk beribadah, bahkan malas untuk kebaikan dirinya sendiri.
Bisa dibilang, malasnya hingga taraf akut pada waktu itu. Bahkan sesungguhnya
ia pun malas membaca satu bacaan yang tergeletak di atas mejanya. Tetapi ada
satu bagian tulisan yang dicetak miring tidak sengaja tertangkap oleh ekor
matanya. Kurang lebih pernyataannya tertulis seperti ini:
“Barangsiapa yang mempunyai anak perempuan,
dipelihara, dirawat, dididik, dan dijaga dengan baik, diberi dari apa yang
diberikan Allah padanya berupa kenikmatan, maka dia akan mendapatkan perisai
kanan dan kirinya dari api neraka hingga surga”.
Seketika
itu juga ia teringat pada seorang lelaki yang tak pernah mengeluh, tidak
menunjukkan kelelahan, dan ternyata memiliki satu tempat tersendiri di hatinya.
Ia menyebutnya AYAH. Teringat bagaimana ia ditimang, dibuai, dididik, hingga
dicukupkan segala kebutuhannya oleh ayahnya. Bergegas ia bangkit dari
kemalasannya, dibasuhnya kedua tangan sembari mengenang bagaimana wajah sang
ayah disana. Dibenahinya seluruh hidupnya semenjak waktu itu. Memang tidak
serta merta berubah menjadi “baik”, tetapi bertahap ia penuhi kewajibannya
tepat waktu. Setiap kali rasa malas dan lalai merayunya, sigap ia tepis dengan
setumpuk keyakinan bahwa apapun yang ia lakukan kini, semoga menjadi pelindung
di dunia dan akhirat bagi kedua orang tuanya. Tak luput pula dirinya ia tempa
dari semua sisi, ilmu dan iman. Karena ia yakin, Allah Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Seperti itulah kiranya, bagaimana sang perempuan memperjuangkan
kebaikan dirinya sebagai tabungan untuk menyelamatkan ayahnya dari siksa api
neraka melalui do’a anak shalih dan shalihah.
Lalu
apa yang terjadi kini pada perempuan itu? Wallahualam..
Hanya
dia dan Rabb-nya yang mengetahui. Karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa-apa yang tidak diketahui hamba-Nya. Sungguh Ia Maha Esa. Allahu Akbar.
Ada
pelajaran yang disuguhkan sang perempuan tadi. Berhijrah memang sulit, tetapi
bukan tidak mungkin mampu kita lalui hanya jika kita bersungguh-sungguh
melakukannya.
Apa
yang kau harapkan adalah yang akan kau dapatkan. Jika kau mengharap dunia, maka
akan kau dapati dunia bersamamu. Tetapi jika yang kau harapkan adalah ridho
Allah, maka berlaku-lah sebagaimana apa yang Ia firmankan dalam kitabullah
karim.
Bapak,
terima kasih untuk seluruh pemeliharaan, perawatan, pendidikan, dan penjagaan
yang engkau berikan untukku. Doakan ananda, senantiasa dalam lindungan-Nya,
dimudahkan segala urusan dunia dan akhirat agar kita dapat segera berkumpul
lagi di bawah atap yang penuh berkah. Amin.
Dramaga,
03 April 2015
Ananda