Kamis, 07 November 2019

Izinkan aku tertidur sejenak.
Aku benar-benar lelah.
Lelah yang se-lelahnya.

Lututku mulai gemetaran menahan kerasnya perjuangan.
Jemariku mulai keriting laksana daun kekeringan.
Otakku mulai soak didera pikiran tak berujung.
Ampun Tuhan!
Ingin rasanya tertidur barang sejenak.
Sejenak saja.
Barangkali setelahnya Aku tidak lagi terbangun.
Maafkan Aku, diriku.



Palopo, 09 November 2019
Untuk diriku yang rindu terlelap.

Jumat, 04 Mei 2018

Happy Mom

Hai..
Perkenalkan, saya ibu dengan satu orang bayi. Saya juga seorang ibu yang aktif bekerja. Sehari-harinya, saya bekerja sebagai pendidik pada salah satu universitas kabupaten. Kehidupan yang saat ini saya jalani penuh dengan bumbu-bumbu yang luar biasa.

Inilah petualangan ku sebagai "working mom" yang penuh suka duka dalam mengurus anak dan rumah tangga.

#NAH

Minggu, 01 November 2015

Ide: Berbesar Hati


Ada yang terlahir sebagai yang terkuat.
Ada yang terlahir sebagai yang paling rupawan.
Ada yang terlahir sebagai yang paling cerdas.
Ada yang terlahir sebagai yang paling egois.
Ada yang terlahir sebagai yang paling kejam.
Ada yang terlahir sebagai yang paling periang.
Ada yang terlahir sebagai yang paling bijaksana.
Ada yang terlahir sebagai yang merasa paling beruntung.
Ada yang terlahir sebagai yang merasa maha tahu.
Ada yang terlahir sebagai yang merasa paling merana dan menderita.

Tidak peduli engkau menjadi yang ter-apa-pun, setidaknya ada dalam satu detik dalam hidupmu engkau ingin menyebrangi peran orang lain.
Yang rupawan tetiba berkeinginan menjadi yang terburuk rupanya.
Yang buruk rupa memuja-muji sang rupawan dan kebingungan mengapa rupawan ingin berada di posisinya.

Namun, tahukah kalian..sekali saja kalian memejamkan mata dan kemudian mengalirkan air mata yang paling tulus sembari berkata “Wahai Tuhanku, aku bukan apa pun tanpa-Mu. Aku hanya se-tetes dari limpahan keagungan-Mu. Lantas, aku dan air mata yang mengalir dari kedua mataku semoga adalah air yang mengalir dari hatiku pula. Aku persembahkan segenap jiwa dan ragaku untuk menyembah-Mu”, maka kesejukan baru akan terasa.
Masalah yang menggunung,
kepenatan yang merantai,
kegundahan yang memeluk,
rasa cemas yang menudungi,
penolakan yang bertubi-tubi,
kelelahan tak terperi,
hingga kesedihan yang bagai tak temu ujungnya,
seketika terbang bersama angin.

Engkau tidak pernah benar-benar sendiri!
Ada angin yang menyapu air matamu.
Ada bebungaan yang ingin melihatmu ceria kembali.
Ada langit biru yang begitu luas yang tak jemu menanti bahagiamu.
Ada hamparan hijau tetumbuhan yang menyugukan perdamaian.
Dan mungkin ada seseorang yang ingin engkau tetap eksis demi kelangsungan hidupnya,
kita tidak pernah benar-benar tahu apakah kita benar-benar sendiri.

Di akhirnya,
aku pun berharap, semoga aku tidak pernah benar-benar ingin menjadi orang lain.
Bisa saja orang-orang berpikir aku lemah, rapuh, dan tidak bisa diandalkan.
Itu pikiran mereka, biarkanlah..selama Tuhan belum berpikir buruk tentangmu.
Tapi, bukankah Tuhan tidak pernah sekali pun?

Kemarin,
mungkin waktu sedang tidak bersahabat dengan ku.
Tidak apalah..
Karena semua seperti yang lalu.
Setelah hujan akan ada pelangi.
Aku marah..
Aku kecewa..
Aku terpuruk..
Aku memafkan..
Karena diriku berhak merdeka.
Tanpa perlu melakoni peran orang lain.
Terima kasih untuk melahirkanku dengan seluruh kekurangan dan kelebihanku.
Terima kasih untuk melahirkanku sebagai orang yang selalu belajar “ber-besar hati dan memaafkan”.

_Di bawah mendungnya langit_
Nhia Hammado

Aku Pamit, Aku Pergi


Bogor, 27 Oktober 2015

Dengan penuh hormat, aku menyapamu.
Hai sang pemberi rindu. Akan aku ceritakan bagaimana aku merenda rindu tanpa jarummu.
Aku berdiri di sini engkau di sana, di tempatmu.
Aku merindu, engkau tidak.
Aku mengkhawatirkanmu, engkau tidak.
Aku memipikanmu, engkau tidak sekali pun.
Aku berbincang tentangmu, cermin menertawaiku.
Aku kabarkan rasaku bersama gulungan penat, sang penat ternyata lelah mendengar celoteh tentangmu.
Aku kisahkan tentang rinduku, semesta mencemooh.
Lalu aku duduk bersimpuh menghadap-Nya, untungnya saja Ia selalu mendengarku.
Tapi aku malu.
Malu karena tak jua mendapat jarum darimu.
Malu karena ternyata aku sendiri, sendiri memeluk rasa ini.
Biarlah aku bawa pergi saja (lagi).
Seperti yang kemarin.
Seperti yang sudah-sudah.

Kalau esok masih akan ada hari, jangan cari aku.
Aku takut, semuanya telah hambar.
Karena melarut bersama rindu yang tak berbalas.

Hai sang pembuat rindu, aku haturkan salam hormat untukmu.
Aku ada, engkau tak ada.
Aku memilihmu, engkau memilih yang lain.
Aku diam, engkau bingung.
Aku pergi, kau masih tak beranjak dari tempatmu.
Baiklah,
Aku undur diri.
Aku pamit.
Aku pergi, karena engkau meminta.
Meski bukan lewat lisan.
Aku pamit.
Aku pergi.
Tenanglah, ketika kau menengok..
Aku tak lagi di belakangmu.
Cukup sudah doa-doaku untukmu.
Aku pamit.
Aku pergi.

Tidak akan ada lagi sapaan selamat pergantian waktu.
Tidak akan lagi perhatian menjijikkan.
Karena aku pamit.
Aku pergi.

Mungkin aku tidak bernilai untukmu.
Atau aku hanya selingan.
Entahlah.
Harusnya aku cukup pintar untuk mengetahui ini.
Tapi kenyataannya aku memang bodoh!
Bodoh karena masih saja disini, padahal telah berpamitan.
Oke..
Aku pamit.
Aku pergi.
Selesai (seperti sebelum-sebelumnya).

_Aku Pamit, Aku Pergi_
NAH

Rabu, 28 Oktober 2015

Kunci Hati


Terlalu banyak waktu yang telah kita habiskan
hanya untuk terlihat sempurna pada mereka yang belum tentu peduli dengan usaha kita.

Terlalu sering batin kita merasa lelah 
ketika berharap yang belum tentu mengharapkan kita, 
sampai seringkali merasa kesepian dan sendiri, 
seolah-olah kita-lah mahluk paling merana di dunia.

Apa itu yang kita sebut BAHAGIA, SUKSES, atau mungkin PUAS?

Mengapa tak kita perbaiki cara pandang kita…

Tidak butuh cara yang rumit, dimulai dengan cara yang paling sederhana, berdamai dengan diri sendiri.


NAH

Risau


Di persimpangan langkah ku terhenti.
Rasanya jalan setapak itu akan berujung pada sebuah ketiadaan.
Bersamaan dengan pupusnya pengharapan demi pengharapan.
Ketika cemas menyeruak dan kata andai bersemayam menduduki singgasana akal.
Maka adakah kata “lanjut” akan kita jumpai di penghujung jalan nanti?

Peluh keringat mulai berderai.
Aku sapui satu per satu kerikil yang ku temui di setiap kali tapak kaki aku jejal.
Aduhai, kekerasan hati seperti apakah yang mampu merebahkan kesusahan nak seperti ini.
Lamat-lamat aku tatapi bayangan yang segaris dengan setumpuk susunan cita-cita.
Aku bawa hendak tetap di jalur raya, melampaui rimba, menembus batas.
Seorang anak yang konon moyangnya adalah perantau.
Mencoba peruntungan di tanah asing, tanpa sanak namun tak berarti tanpa saudara.
Mantap melabuhkan impian masa lampaunya dengan modal penanya.
Secarik kertas adalah tumpangannya.
Iman dan doa adalah rambunya.

Guratan-guratan pasrah semburat kekhawatiran menjejali tanah.
Hendak berhenti kakinya ia langkahkan.

Amboi, lihatlah tunas diantaranya!
Tumbuh subur tersiram optimisme.
Riuh ramai angin bertepuk, menggaungkan lantang semangat tak terpadamkan.
Bahkan kini lajunya tak terbendung.
Aku ikat!
Aku tiupkan!
Perlahan..
Ia tumbuh bersama waktu.
Dewasa ditemani doa dari seberang pulau.
Doa mereka yang berdoa, agar anak itu tak lupa pulang.

Mawang, Doa mereka yang berdoa, agar anak itu tak lupa pulang.

Mawang, 14 Agustus 2014
_NAH_

Perempuan: A Gift


Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk…
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…

Ini tentang anak perempuan dan lelaki yang menduduki tempat tak tergantikan di hatinya.
Demikian tulisan ini aku peruntukkan kepada semua anak perempuan dimana pun keberadaannya, sekiranya setelah membaca tulisan sederhana ini, membuat mereka lebih bijaksana dalam bersikap. Insya Allah.

Tersebutlah seorang anak perempuan yang sedari tadi membenarkan ujung hijabnya karena  dimainkan oleh angin sore. Serat-serat kain menutupi sekujur kepalanya, berwarna cerah tak menyilaukan. Entah sudah berapa lama ia telah menutupi auratnya sesuai anjuran agama yang diyakininya. Akan tetapi belum lama ia meng-hijabkan hatinya, belum lama. Perjalanan yang ditempuhnya untuk menguatkan tekad menghijabkan hati tidak-lah muda, semuanya dilalui dengan berbagai proses. Tak urung menyebabkan air mata harus bercucuran, ataukah batin meranggas seperti tak bertuan. Dipeluknya beberapa tumpukan map yang telah beberapa bulan ini setia menemaninya menuju masa depan yang lebih cerah. Pilihannya untuk meninggalkan keluarga jauh disana bukan keputusan mudah baginya. Berjalan di tanah orang, dengan bekal seadanya, berkawan rindu, beramunisi semangat, modal jihadnya untuk dirinya, keluarga, dan agamanya. Seperti pepatah yang diyakininya, “Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri Cina”, mantap ia langkahkan kakinya.

Sebelumnya ia hanyalah perempuan biasa yang sibuk dengan urusan pribadinya tanpa menghiraukan bagaimana lelaki itu membuatnya jadi permata dalam kehidupannya. Banyak hal yang bersifat duniawi dilakukannya untuk mengejar kepuasan dan pencapaian yang bersifat duniawi pula. Bahkan tak jarang, kewajiban akhiratnya tak jua dilakukannya. Alasan sibuk, tak ada waktu, belum mendapat hidayah, atau perjalanan masih panjang adalah beberapa tipu daya sang akalnya untuk mengelabui hati kecilnya yang kemarau akan kehadiran Tuhan.

Perlahan, sang perempuan mulai menyadari ada yang salah dalam pola kehidupannya, tapi ia sendiri masih tertatih menemukan apa gerangan kekurangan itu. Tak ayal ia tanyakan pada dirinya ketika sedang meresapi kesendirian, ataukah ia diskusikan pada kerabat-kerabat dekatnya. Ada yang menganggap itu hal biasa, ada juga yang memberikan beberapa nasihat. Tetapi, nalurinya menuntun ia untuk mencari tahu dengan mengaktifkan diri pada banyak majelis. Dimulai dari majelis ilmu sosial, ilmu politik, hingga ilmu agama. Mungkin sebenarnya ia telah mengetahui apa yang kurang tepat dalam hidupnya. Hanya saja ia terlalu takut untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tetapi Allah sungguh Maha Penolong dan Maha Pemberi Petunjuk. Dituntunnya hidup sang perempuan menuju jalan bercahaya. Terseok memang, tetapi semangat untuk berhijrah juga sama besarnya, sehingga perlahan hidup sang perempuan mulai berubah. Bukankah berhijrah memang berat? Jika tidak, maka proses bukan lagi satu nilai penting dalam kehidupan.

Dari sekian banyak “hijrah” yang dilakukannya, ada satu yang menarik menurutku.

Suatu ketika, sang perempuan dihinggapi rasa malas luar biasa. Malas untuk melakukan apapun, malas untuk beribadah, bahkan malas untuk kebaikan dirinya sendiri. Bisa dibilang, malasnya hingga taraf akut pada waktu itu. Bahkan sesungguhnya ia pun malas membaca satu bacaan yang tergeletak di atas mejanya. Tetapi ada satu bagian tulisan yang dicetak miring tidak sengaja tertangkap oleh ekor matanya. Kurang lebih pernyataannya tertulis seperti ini:

Barangsiapa yang mempunyai anak perempuan, dipelihara, dirawat, dididik, dan dijaga dengan baik, diberi dari apa yang diberikan Allah padanya berupa kenikmatan, maka dia akan mendapatkan perisai kanan dan kirinya dari api neraka hingga surga”.

Seketika itu juga ia teringat pada seorang lelaki yang tak pernah mengeluh, tidak menunjukkan kelelahan, dan ternyata memiliki satu tempat tersendiri di hatinya. Ia menyebutnya AYAH. Teringat bagaimana ia ditimang, dibuai, dididik, hingga dicukupkan segala kebutuhannya oleh ayahnya. Bergegas ia bangkit dari kemalasannya, dibasuhnya kedua tangan sembari mengenang bagaimana wajah sang ayah disana. Dibenahinya seluruh hidupnya semenjak waktu itu. Memang tidak serta merta berubah menjadi “baik”, tetapi bertahap ia penuhi kewajibannya tepat waktu. Setiap kali rasa malas dan lalai merayunya, sigap ia tepis dengan setumpuk keyakinan bahwa apapun yang ia lakukan kini, semoga menjadi pelindung di dunia dan akhirat bagi kedua orang tuanya. Tak luput pula dirinya ia tempa dari semua sisi, ilmu dan iman. Karena ia yakin, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Seperti itulah kiranya, bagaimana sang perempuan memperjuangkan kebaikan dirinya sebagai tabungan untuk menyelamatkan ayahnya dari siksa api neraka melalui do’a anak shalih dan shalihah.

Lalu apa yang terjadi kini pada perempuan itu? Wallahualam..
Hanya dia dan Rabb-nya yang mengetahui. Karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tidak diketahui hamba-Nya. Sungguh Ia Maha Esa. Allahu Akbar.
Ada pelajaran yang disuguhkan sang perempuan tadi. Berhijrah memang sulit, tetapi bukan tidak mungkin mampu kita lalui hanya jika kita bersungguh-sungguh melakukannya.
Apa yang kau harapkan adalah yang akan kau dapatkan. Jika kau mengharap dunia, maka akan kau dapati dunia bersamamu. Tetapi jika yang kau harapkan adalah ridho Allah, maka berlaku-lah sebagaimana apa yang Ia firmankan dalam kitabullah karim.

Bapak, terima kasih untuk seluruh pemeliharaan, perawatan, pendidikan, dan penjagaan yang engkau berikan untukku. Doakan ananda, senantiasa dalam lindungan-Nya, dimudahkan segala urusan dunia dan akhirat agar kita dapat segera berkumpul lagi di bawah atap yang penuh berkah. Amin.

Dramaga, 03 April 2015
Ananda