Tampilkan postingan dengan label bright. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bright. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Mei 2018

Happy Mom

Hai..
Perkenalkan, saya ibu dengan satu orang bayi. Saya juga seorang ibu yang aktif bekerja. Sehari-harinya, saya bekerja sebagai pendidik pada salah satu universitas kabupaten. Kehidupan yang saat ini saya jalani penuh dengan bumbu-bumbu yang luar biasa.

Inilah petualangan ku sebagai "working mom" yang penuh suka duka dalam mengurus anak dan rumah tangga.

#NAH

Rabu, 28 Oktober 2015

Risau


Di persimpangan langkah ku terhenti.
Rasanya jalan setapak itu akan berujung pada sebuah ketiadaan.
Bersamaan dengan pupusnya pengharapan demi pengharapan.
Ketika cemas menyeruak dan kata andai bersemayam menduduki singgasana akal.
Maka adakah kata “lanjut” akan kita jumpai di penghujung jalan nanti?

Peluh keringat mulai berderai.
Aku sapui satu per satu kerikil yang ku temui di setiap kali tapak kaki aku jejal.
Aduhai, kekerasan hati seperti apakah yang mampu merebahkan kesusahan nak seperti ini.
Lamat-lamat aku tatapi bayangan yang segaris dengan setumpuk susunan cita-cita.
Aku bawa hendak tetap di jalur raya, melampaui rimba, menembus batas.
Seorang anak yang konon moyangnya adalah perantau.
Mencoba peruntungan di tanah asing, tanpa sanak namun tak berarti tanpa saudara.
Mantap melabuhkan impian masa lampaunya dengan modal penanya.
Secarik kertas adalah tumpangannya.
Iman dan doa adalah rambunya.

Guratan-guratan pasrah semburat kekhawatiran menjejali tanah.
Hendak berhenti kakinya ia langkahkan.

Amboi, lihatlah tunas diantaranya!
Tumbuh subur tersiram optimisme.
Riuh ramai angin bertepuk, menggaungkan lantang semangat tak terpadamkan.
Bahkan kini lajunya tak terbendung.
Aku ikat!
Aku tiupkan!
Perlahan..
Ia tumbuh bersama waktu.
Dewasa ditemani doa dari seberang pulau.
Doa mereka yang berdoa, agar anak itu tak lupa pulang.

Mawang, Doa mereka yang berdoa, agar anak itu tak lupa pulang.

Mawang, 14 Agustus 2014
_NAH_

Perempuan: A Gift


Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk…
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…

Ini tentang anak perempuan dan lelaki yang menduduki tempat tak tergantikan di hatinya.
Demikian tulisan ini aku peruntukkan kepada semua anak perempuan dimana pun keberadaannya, sekiranya setelah membaca tulisan sederhana ini, membuat mereka lebih bijaksana dalam bersikap. Insya Allah.

Tersebutlah seorang anak perempuan yang sedari tadi membenarkan ujung hijabnya karena  dimainkan oleh angin sore. Serat-serat kain menutupi sekujur kepalanya, berwarna cerah tak menyilaukan. Entah sudah berapa lama ia telah menutupi auratnya sesuai anjuran agama yang diyakininya. Akan tetapi belum lama ia meng-hijabkan hatinya, belum lama. Perjalanan yang ditempuhnya untuk menguatkan tekad menghijabkan hati tidak-lah muda, semuanya dilalui dengan berbagai proses. Tak urung menyebabkan air mata harus bercucuran, ataukah batin meranggas seperti tak bertuan. Dipeluknya beberapa tumpukan map yang telah beberapa bulan ini setia menemaninya menuju masa depan yang lebih cerah. Pilihannya untuk meninggalkan keluarga jauh disana bukan keputusan mudah baginya. Berjalan di tanah orang, dengan bekal seadanya, berkawan rindu, beramunisi semangat, modal jihadnya untuk dirinya, keluarga, dan agamanya. Seperti pepatah yang diyakininya, “Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri Cina”, mantap ia langkahkan kakinya.

Sebelumnya ia hanyalah perempuan biasa yang sibuk dengan urusan pribadinya tanpa menghiraukan bagaimana lelaki itu membuatnya jadi permata dalam kehidupannya. Banyak hal yang bersifat duniawi dilakukannya untuk mengejar kepuasan dan pencapaian yang bersifat duniawi pula. Bahkan tak jarang, kewajiban akhiratnya tak jua dilakukannya. Alasan sibuk, tak ada waktu, belum mendapat hidayah, atau perjalanan masih panjang adalah beberapa tipu daya sang akalnya untuk mengelabui hati kecilnya yang kemarau akan kehadiran Tuhan.

Perlahan, sang perempuan mulai menyadari ada yang salah dalam pola kehidupannya, tapi ia sendiri masih tertatih menemukan apa gerangan kekurangan itu. Tak ayal ia tanyakan pada dirinya ketika sedang meresapi kesendirian, ataukah ia diskusikan pada kerabat-kerabat dekatnya. Ada yang menganggap itu hal biasa, ada juga yang memberikan beberapa nasihat. Tetapi, nalurinya menuntun ia untuk mencari tahu dengan mengaktifkan diri pada banyak majelis. Dimulai dari majelis ilmu sosial, ilmu politik, hingga ilmu agama. Mungkin sebenarnya ia telah mengetahui apa yang kurang tepat dalam hidupnya. Hanya saja ia terlalu takut untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tetapi Allah sungguh Maha Penolong dan Maha Pemberi Petunjuk. Dituntunnya hidup sang perempuan menuju jalan bercahaya. Terseok memang, tetapi semangat untuk berhijrah juga sama besarnya, sehingga perlahan hidup sang perempuan mulai berubah. Bukankah berhijrah memang berat? Jika tidak, maka proses bukan lagi satu nilai penting dalam kehidupan.

Dari sekian banyak “hijrah” yang dilakukannya, ada satu yang menarik menurutku.

Suatu ketika, sang perempuan dihinggapi rasa malas luar biasa. Malas untuk melakukan apapun, malas untuk beribadah, bahkan malas untuk kebaikan dirinya sendiri. Bisa dibilang, malasnya hingga taraf akut pada waktu itu. Bahkan sesungguhnya ia pun malas membaca satu bacaan yang tergeletak di atas mejanya. Tetapi ada satu bagian tulisan yang dicetak miring tidak sengaja tertangkap oleh ekor matanya. Kurang lebih pernyataannya tertulis seperti ini:

Barangsiapa yang mempunyai anak perempuan, dipelihara, dirawat, dididik, dan dijaga dengan baik, diberi dari apa yang diberikan Allah padanya berupa kenikmatan, maka dia akan mendapatkan perisai kanan dan kirinya dari api neraka hingga surga”.

Seketika itu juga ia teringat pada seorang lelaki yang tak pernah mengeluh, tidak menunjukkan kelelahan, dan ternyata memiliki satu tempat tersendiri di hatinya. Ia menyebutnya AYAH. Teringat bagaimana ia ditimang, dibuai, dididik, hingga dicukupkan segala kebutuhannya oleh ayahnya. Bergegas ia bangkit dari kemalasannya, dibasuhnya kedua tangan sembari mengenang bagaimana wajah sang ayah disana. Dibenahinya seluruh hidupnya semenjak waktu itu. Memang tidak serta merta berubah menjadi “baik”, tetapi bertahap ia penuhi kewajibannya tepat waktu. Setiap kali rasa malas dan lalai merayunya, sigap ia tepis dengan setumpuk keyakinan bahwa apapun yang ia lakukan kini, semoga menjadi pelindung di dunia dan akhirat bagi kedua orang tuanya. Tak luput pula dirinya ia tempa dari semua sisi, ilmu dan iman. Karena ia yakin, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Seperti itulah kiranya, bagaimana sang perempuan memperjuangkan kebaikan dirinya sebagai tabungan untuk menyelamatkan ayahnya dari siksa api neraka melalui do’a anak shalih dan shalihah.

Lalu apa yang terjadi kini pada perempuan itu? Wallahualam..
Hanya dia dan Rabb-nya yang mengetahui. Karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tidak diketahui hamba-Nya. Sungguh Ia Maha Esa. Allahu Akbar.
Ada pelajaran yang disuguhkan sang perempuan tadi. Berhijrah memang sulit, tetapi bukan tidak mungkin mampu kita lalui hanya jika kita bersungguh-sungguh melakukannya.
Apa yang kau harapkan adalah yang akan kau dapatkan. Jika kau mengharap dunia, maka akan kau dapati dunia bersamamu. Tetapi jika yang kau harapkan adalah ridho Allah, maka berlaku-lah sebagaimana apa yang Ia firmankan dalam kitabullah karim.

Bapak, terima kasih untuk seluruh pemeliharaan, perawatan, pendidikan, dan penjagaan yang engkau berikan untukku. Doakan ananda, senantiasa dalam lindungan-Nya, dimudahkan segala urusan dunia dan akhirat agar kita dapat segera berkumpul lagi di bawah atap yang penuh berkah. Amin.

Dramaga, 03 April 2015
Ananda 

Fantasi


Bogor, mendung yang menggantung, hujan tak kunjung, redup pun iya. Memandang malas ke luar berarah ke jendela angkutan Trans Pakuan. Kedua kabel aku kaitkan ke telinga, perlahan musik mengalun dari lubang-lubangnya. Sejauh mata memandang, inilah kota hujan yang lama tak hujan. Bosan, lapar, sendu, dan..hei, lihat itu manusia juga jejal-menjejal menaiki angkutan umum. Aktivitas yang membuatku terbiasa membaui berjuta aroma manusia sejak di kota ini.
Tidak ada yang istimewa di hari yang tidak begitu istimewa. Setelah apa yang aku alami, kelaparan tingkat dewa nyaris kufur. Kemudian memesan makanan yang naudzubillah panas luar biasa. Bagaimana mungkin aku melahapnya, sedangkan asapnya mengepul bak rangkaian gerbong kereta uap. Belum lagi kecerobohanku memesan jenis makanan yang salah ahh..menggenapkan rasa gamang bercampur gerutu dalam hati. Tapi, sudahlah! Toh, setidaknya lapar tidak jadi pun karena diobati masakan itu. Sekarang tujuanku adalah memuaskan hasratku akan makanan “enak yang aku idamkan”. Hitung-hitung sebagai obat kegusaranku tadi. Rentetan ketidakistimewaan itu berubah menjadi bersinar manakala mataku saling berpautan dengan mata beningnya.
“Masya Allah..”, pekikku dalam hati. Alis tebal, hidung mancung, rupa bak artis Arab, memakai ransel keren, kupluk, headset, buku bacaan di tangan, dan yang terpenting dia tersenyum manis ke arahku. Ehh, benarkah itu untukku? Aku..cuma bisa..SENYUM SIMPUL. Entahlah, grogi atau jual mahal. Batin dan logika ku sedang tidak sinkron. Tuhan, tolong hamba-Mu ini, selamatkan dari moment ”zink” yang aneh.
Sepanjang perjalanan, aku curi kesempatan memandangnya. Sesekali dari pantulan kaca bus, sesekali aku sengaja meliriknya dari jauh. Ahh, sayang..dia terlampau jauh jaraknya dariku. Aku duduk, dia berdiri berpegangan pada langit-langit bus. Hingga perhentian berikutnya, lamunanku buyar. Tenang, dia belum turun kok di perhentian kali ini. Tapi, ada seorang gadis yang naik, dan gadis itu menyapanya. Arrggh..Tuhan, momen ”jleb” apalagi ini. Tak tanggung-tanggung, dia mengecup kening gadis itu. Adakah yang membayangkan bagaimana aku patah hati. Tentu tidak, karena semua pembaca merasa aku tidak sepatutnya sakit hati, dia hanya memberi senyum tadi kan (haha..).
Pemandangan yang sama berlangsung hingga perhentian bus terakhir, dimana semua pengguna bus tersebut turun. Aku..hanya melempar pandangan selidik, dan dia..bodoh! Dia memberiku senyuman maut lagi. Sekarang bisa aku pastikan, pembaca akan gemes dengan gelagatnya. Tapi tahukah kalian apa yang terpikirkan olehku kira-kira seperti ini:
“hai lelaki empunya senyum maut, siapa pun dia, entah itu adikmu, kakakmu, pacarmu, kekasihmu, istrimu, selingkuhanmu, ataulah sekedar sahabatmu, ketahuilah..aku tidak peduli dia. Kamu tahu kenapa? Karena senyum mu sore ini adalah milikku, seutuhnya, sepenuhnya, apakah kamu setuju denganku? Jika iya, cukup kabarkan pada penghujung senja, karena seyogyanya aku selalu berdiri memeluk senyum manis mu bersama ufuk barat”.
Aku mungkin tak akan lagi pernah bertemu dengannya. Atau mungkin akan bertemu dengannya. Atau kami berjodoh (haha..). Terserahlah apa kata sore, karena malam adalah milikku. Dibatas temaram senja.

­_Nhia Hammado_
27 Oktober 2015

Rabu, 30 September 2015

Anak [yang pernah] Gagal


Masih teringat dengan jelas beberapa tahun silam, ketika semua anak merayakan kelulusan mereka di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Banyak diantara mereka yang mempunyai cita-cita melanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Atas seperti yang telah mereka idam-idamkan. Tetapi naas, aku..iya, aku seorang anak dengan kekecewaan luar biasa yang entah itu datang untuk mengutuk diri sendiri atau nasib yang berlaku atas diriku. Bisa aku gambarkan dengan baik bagaimana situasi sekitar kala itu. Pohon jambu yang sedang berbunga berdiri tepat ditengah-tengah lapangan sekolah. Bunganya tidak lantas membuat hatiku berbunga atau bahagia. Bagaimana bisa itu terjadi sementara aku adalah salah satu siswi yang dinyatakan TIDAK LULUS pada UJIAN AKHIR NASIONAL. Galau dan gamang yang menyergap membuat keriuhan sekolah seperti hampa di benakku. Ujian memang mematahkan impianku kala itu untuk melanjutkan sekolah kejuruan farmasi yang aku idam-idamkan sejak jiwa ragaku berdecak kagum memandang kakak-kakak dari sekolah farmasi. Tidak itu saja, berbagai cibiran, kecaman, dan sindiran seakan sinis menikam ke arahku. Dunia seperti berhenti seketika, impian dan cita-cita aku buang ke tong sampah. Malu, marah, geram, kesal, dan mengutuki kejujuranku kala itu. Penderitaan tidak berakhir begitu saja, tak ada satu pun sekolah di dalam kota yang mau menerimaku, dan berakhirlah aku di salah satu sekolah pinggiran kota.
            Untung saja waktu itu cita-cita dan amarah ku tidak seluruhnya aku buang ke dalam tong sampah. Masih ada yang aku sisakan, sedikit tetapi ampuh untuk aku ubah bentuknya menjadi amunisi. Bukan aku gunakan untuk memerangi orang lain, namun terlebih untuk aku gunakan membangun kembali kepercayaan diriku yang luluh lantah akibat kekecewaan yang teramat perih. Di tempat asing itulah, aku belajar banyak hal. Kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan, perjuangan, dan yang paling penting adalah belajar untuk bangkit setelah terjatuh. Pelan-pelan, aku rangkai batu titian masa depanku. Sambil terus menggenggam cita-cita yang seakan semakin menyala, “aku ingin menjadi pendidik”. Ingin aku bagikan apapun yang aku dapatkan selama ini kepada mereka yang haus akan pendidikan. Akan aku kuatkan mereka yang berpotensi namun tak tahu potensi mereka. Aku hanya ingin membayar semua kekecewaanku dengan melihat anak didikku tumbuh kembang melampauiku.
            Saat ini, aku telah melangkah sejauh ini. Rasanya ada sejuta pengalaman yang menyertai jejak-jejak kaki. Satu dua bahkan jutaan air mata, tidak lagi terbilang banyaknya. Semua yang aku dapatkan hari ini, aku dedikasikan kepada mereka yang sabar menemaniku dan selalu yakin kemampuanku. Tidak lupa juga saya haturkan terima kasih kepada mereka yang meragukan dan memandangku sebelah mata. Tanpa sikap kalian yang antipati terhadapku, mungkin aku tidak bisa menjadi seperti saat ini. Semoga kalian semua terangkum bersama-sama dengan mereka yang senantiasa menebar kebaikan. Aamiin allahumma aamiin.

Bogor,
160915
Nurul Ichsania Hammado, S.Pd, M.Si. 

Kamis, 30 Oktober 2014

Perempuan


Bismillah..

Sore itu aku melalui petualangan yang luar biasa dengan teman lamaku. Sembari menapaki jalan yang dipenuhi dedaunan kering, aku memulai obrolan berbobot dengannya. Awalnya hanya berupa candaan ringan, namun aku tahu ujungnya akan ada pembelajaran berharga yang akan kita perbincangkan. Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, tidak ada pertemuan yang hanya kami habiskan dengan tanpa dialog berbobot. Jadi, berikut adalah potongan percakapan yang sempat tersimpan dalam ingatan jangka panjangku.

Kami adalah perempuan, dan perempuan merupakan mahluk yang dianugerahi dengan banyak keistimewaan. Aku suka membahas sisi perempuan bukan hanya karena aku perempuan, tetapi memang tidak akan pernah ada akhirnya pembahasan mengenai bagaimana wanita sesungguhnya harus eksis. Belakangan marak menjadi perbincangan mengenai sifat wanita yang diidamkan. Tidak jarang aku temui banyak status yang menunjukkan bagaimana wanita idaman itu. Salah satu status media sosial temanku menuliskan kurang lebih seperti ini, “Bahkan teori 3B (Beauty, Behavior, and Brain) mampu dikalahkan oleh teori 3S (Syar’i, Sholehah, and Smart)” atau bahkan ada salah satu teman lelakiku yang menuliskan “Perempuan Idaman adalah mereka yang Syar’i, Sholehah, dan Smart, selamat malam perempuan yang bisa dicicil uang panaik-nya (read: uang mahar)”, haha..gagal fokus. Baiklah kembali ke topic pembicaraan. Sederhana hanya saja mungkin konsep yang dibuat orang-orang berilmu dan beriman itu. Tetapi, tahukah kita bahwa apa yang terdapat dibalik kedua konsep itu, ada pembelajaran yang luar biasa tentang perempuan yang siap bersaing di era saat ini.
     
   Sebelum saya membahas mengenai 3S itu, maka saya memulai dengan konsep lama yaitu 3B. Pertama yang akan dibahas adalah beauty. Lantas mengapa kata ini yang ditaruh paling pertama? Sederhana saja jawabannya, karena setiap wanita menginginkan predikat “cantik”, terlepas bagaimana mereka memaknai kata “cantik” itu. Saya jadi teringat satu bait potongan lagu band Lyla yang membuatku jatuh cinta dengan lagu ini,

“Bukan karena make up di wajah mu atau lipstik merah itu, lembut hati tutur kata terciptalah cinta yang kupuja. Karena kamu cantik, kan kuberi segalanya apa yang ku punya dan hatimu baik, sempurnalah duniaku saat kau di sisiku”

bahkan diciptakan lagu istimewa yang diperuntukkan untuk mendefinisikan bagaimana cantik itu sendiri. Cantik itu relatif, dan bagaimana masing-masing mata mendefinisikan adalah tergantung kacamata yang digunakan. Contoh sederhana; Suhyana (25thn), cantik itu seperti Selena Gomes; Setiawan (24thn), cantik itu seperti cewek-cewek korea yang bermata sipit dan berambut panjang (yang kemudian diejek Suhyana sambil berkata, hati-hati loh..kuntilanak juga berambut panjang!#abaikan); dan Riezha Khann (25thn), cantik itu yah..seperti calon istri ane broh..(hayo, calonnya yang mana coba..:D ). Karena defenisi yang terlalu meluas, maka diperbaikilah teori tadi dengan mengganti beauty dengan syar’i. Nah, ketika ada batasan syar’i tadi, maka jelas sudahlah cantik itu seperti apa. Berpakaian sopan, bertutur santun, dan bersih. Setidaknya itulah yang aku pahami dari ajaran agamaku. Dan saya pun yakin, agama manapun setuju dengan defenisi kali ini.

     Kata berikutnya yaitu brain. Entah mengapa saya jadi ingin menaruh kata ini di urutan kedua. Bisa jadi karena menurut saya perempuan “cerdas” itu seksi. Iya, bukan hanya dituntut untuk cantik tapi tidak berotak dangkal. Nah, saya juga pernah sekali mendapati status teman lelaki saya menuliskan seperti ini, “jadi perempuan jangan berpikir dangkal dan cengeng”, kemudian saya pun mengangguk diam dalam hati. Oh, atau mungkin display picture teman saya yang memamerkan deretan kalimat:

“Saya berusaha agar anak saya jauh lebih cerdas dari saya. Saya tidak rela jika saya menjadi ibu yang tidak bisa memenuhi kehausan anak saya akan ilmu dan iman. Karena itu saya belajar untuk melatih respon kepekaan cintaku pada ilmu pengetahuan dan agama.”

Jika ingin mendefinisikan cerdas itu seperti apa, nampaknya agak sedikit rumit, karena kecerdasan ada banyak jenisnya. Dimulai dari kecerdasan numerik dan logic, linguistik, intuisi dan seni, olahraga, interpersonal, intrapersonal, dan masih banyak lagi penggolongan lainnya, setidaknya itu yang masih terpatri dalam memoriku semenjak strata satu dulu. Ada beberapa wanita yang memiliki multi intelegensi atau yang lebih dikenal multi kecerdasan, yaitu kondisi dimana seseorang memiliki lebih dari satu kecerdasan. Subhanallah mereka yang dianugerahi kecerdasan lebih. Mengenai kecerdasan, tidak sedikit orang yang menganggap jika kecerdasan itu adalah bawaan lahir, semacam rezeki yang telah ditakdirkan untuk orang-orang tertentu. Memang benar jika kecerdasan itu hanya akan menghampiri orang-orang tertentu, yakni orang yang berusaha untuk cerdas. Tetapi bukan berarti mereka yang tidak memiliki keturunan cerdas tidak memiliki kesempatan untuk cerdas. Berdasarkan prinsip peluang di mata kuliah analisis statistika, peluang dari suatu kejadian memiliki proporsi yang sama (thanks for the awesome lecture assistant ;)). Jadi, kejadian yang sebenarnya adalah bahwa para orang tua yang memiliki kecerdasan, akan mengupayakan anaknya untuk memiliki kecerdasan yang sama atau bahkan melebihi orangtuanya. Kemudian disimpulkan, kemungkinannya akan sama jika saja para orang tua yang memiliki kemampuan pas-pasan mendoktrin dan mengupayakan anaknya untuk memiliki kecerdasan melebihi orangtuanya, suatu saat akan mendapati anaknya mampu mengubah nasib keluarga mereka, who knows. Belajar bisa dimana saja dan kapan pun, karena belajar tidak ada batasan. Semakin seseorang belajar, semakin sadarlah mengenai banyak ketidaktahuan mereka. Semakin saya belajar, semakin jatuh cinta-lah saya pada ilmu.

Potensi setiap orang untuk menjadi cerdas sama saja. Ada yang hanya dengan duduk santai lantas ketika ujian mendapatkan nilai baik. Ada juga yang harus dibantu dengan metode sistem kebut semalam, yang tentu saja tidak saya anjurkan. Ada juga yang memiliki cara audio (mendengarkan) atau visual (melihat). Ada juga yang tidak bisa belajar disatu tempat. Ada juga yang membuat rangkuman materi terlebih dahulu, atau berdiskusi, atau bahkan bersemedi di kamar mandi (nah loh..). Apapun caranya, yang penting belajar. Untuk saya sendiri sepertinya adalah orang yang harus belajar jauh hari sebelum ujian itu tiba. Ingat, tidak ada manusia yang bodoh, hanya saja mereka malas atau lamban dalam memahami materi. Kira-kira saya termasuk yang lamban memahami (hehe..), karenanya ketika orang lain perlu berjalan lebih cepat untuk menempuh kesuksesan mereka, maka saya harus berlari untuk minimal menyamai mereka.

     Tetapi, apakah lantas karena kita telah menguasai semua materi dan mendapat nilai bagus lantas kita disebut cerdas? Belum! Pepatah lama mengatakan “ilmu tanpa iman bagai raga tak berjiwa, kosong, hampa..”. Maka kemudian kecerdasan didefenisikan sebagai kemampuan seseorang untuk menemukan solusi dari masalahnya, membuat suatu keputusan dan bertanggungjawab, serta bermanfaat untuk dirinya, keluarga, bangsa, dan agamanya. Itulah yang didefenisikan sebagai smart.

     Poin ketiga adalah behavior. Poin ini yang banyak digaung-gaungkan sekarang hampir disetiap elemen kehidupan. Terkadang dalam poin behavior sering dimaknai sebagai “kecerdasan emosional”. Mereka yang memiliki behavior yang baik, akan membentuk mereka menjadi insan dengan skill yang luar biasa. Masih ingat dengan pernyataan “perempuan harus multitasking dan mandiri”? Iya, tepat sekali. Perempuan yang diidamkan adalah mereka yang bisa melakukan banyak pekerjaan secara bersamaan dan tentu saja dengan hasil yang baik. Ini adalah bagian terpenting dari metode 3B. Meskipun menjadi poin yang terakhir, tapi poin inilah yang menjadi identitas wanita idaman sesunggunya.

     Bagaimana untuk bisa multitasking? Tidak jauh-jauh mencari defenisi, mari menengok ibu kita masing-masing. Salah satu figur yang berkontribusi paling besar hingga saya berada sejauh ini adalah beliau. Saya memanggilnya mama. Mama saya adalah perempuan luar biasa. Memiliki delapan anak, lima perempuan dan tiga laki-laki, dengan persoalan hidup masing-masing yang luar biasa hebatnya. Mama saya seorang pensiunan guru. Konon kabarnya, mama saya pensiun ketika melahirkan saya (hadeuh..dasar nhia!!:D). Sebelum pensiun, mama saya harus mengurus semuanya dengan bakat multitasking-nya. Mama saya pandai menjahit, membuat beberapa masakan yang selalu membuatku rindu pulang (hikss..), ataupun beberes rumah. Selama bisa dilakukannya sendiri, akan dia lakukan pekerjaan itu tanpa merepotkan orang lain (yang pada akhirnya beliau lupa usianya sekarang berapa, masih saja ngotot kerja ini dan itu). Jangan ditanya kalau perkara mengajar. Banyak pengalaman unik yang diajarkan beliau kepada saya, berikut rangkuman nasihatnya.

1. Jadi perempuan itu harus bisa masak dan beres-beres (kolot tapi tetap aku jalankan, hehe..). Bagaimana mau dirindukan suami dan anak, kalau tidak ada kenangan yang membuat mereka ingin pulang. Bahkan teman lama saya itu sempat membuat status “my mother is the best chef in this world”. Tidak harus masakan mewah, yang penting bergizi dan sehat. Begitu juga rumah, kalau tidak bersih kan malu sama tamunya suami. Perempuan cantik itu tercermin dari dapur, sumur, dan kasur, yang entah beliau dapatkan darimana quote tersebut (yang pernah se-rumah denganku pasti sangat ingat dengan kalimat itu :D ).

2. Jadi perempuan itu, harus pintar berempati dan tetap tegas. Pelajaran semakin rumit. Satu sisi dianjurkan untuk berempati, tetapi di sisi lainnya harus tetap tegas. Ada lagi hal unik yang diajarkan kedua orangtua saya. Mereka membedakan antara “memanjakan dan menyayangi”. Menyayangi adalah memenuhi permintaan anak sesuai kebutuhan dan usianya, sedangkan memanjakan adalah meng-iya-kan semua permintaan dan rengekan anak hany karena empati berlebih atau tidak tahan mendengar rengekan dan tangisannya. Saya ingat betul bagaimana keluarga (bukan hanya orangtua, tapi juga saudara-saudaraku) bersikap ketika saya meminta salah satu gadget, handphone. Saya tetap dibelikan gadget tersebut, tetapi hanya yang bisa menelpon dan mengirim pesan tentu saja dengan wejangan “kalau dhede mau HP yang lebih canggih dan bagus, dhede harus menabung atau setidaknya punya kerjaan dulu untuk membeli dengan uang  sendiri”. Kini saya pun mengerti, barang yang saya beli dengan jerih payah sendiri, kenikmatannya luar biasa dan kita jadi lebih bisa menghargai keberadaan barang tersebut (yah..meskipun saya tetap saja ceroboh, kadang-kadang menghilangkan barang..:D).

3. Jadi perempuan itu harus bisa berhemat, karena belum tentu rezeki datang dalam jumlah yang sama. Berhubung karena saya masih belum berpenghasilan tetap, makanya ada baiknya saya belajar untuk “memprioritaskan” segalanya. Mulai mengurut mana yang terbilang penting dan mana yang bisa ditunda. Mana yang bisa didaur ulang dan mana yang sekali pakai.

4. Jadi perempuan itu harus bisa tangguh. Kadang ada waktu dimana tidak ada lelaki yang bisa membantu beberapa pekerjaan rumah. Disaat seperti itulah diperlukan skill untuk memperbaiki antenna TV, memperbaiki kabel listrik, atau bahkan mengangkat galon. Agak ekstrim memang, tetapi intinya selama bisa dikerjakan oleh kita, kenapa harus menyusahkan orang lain.

5. Jadi perempuan jangan cengeng, harus anggun, santun dan sabar. Upss..untuk yang satu ini saya masih belum lulus,haha..Karena air mata pun ada waktunya untuk kita teteskan. Jangan meneteskan air mata sehingga terlihat lemahmu, tapi teteskanlah untuk menunjukkan sisi terkuatmu. Masih agak sulit untuk saya terapkan, tapi bukan berarti tidak bisa diupayakan.

6. Jadi perempuan itu harus paham agama. Bagaimana kamu akan dipilih oleh jodoh kamu yang beriman, kalau kamu belum memantaskan diri untuk dipilih oleh mereka yang beriman(jleb..mak..). Mari berbenah wahai wanita-wanita.

Inilah yang disebut sholehah dalam agama kami.
Hingga kemudian, saya dan teman lama saya menyimpulkan hasil diskusi kami.

Tidak akan sanggup kita mengajarkan konsep apa itu hitam, putih, dan abu-abu, jikalau kita hanya sibuk mendeskripsikan tanpa pernah mempraktekan. Kalah teori oleh praktek. Kita harus mengenakan jubah hitam untuk menunjukkan jika inilah warna hitam, harus mengenakan jubah putih untuk menunjukkan putih, dan mengenakan jubah abu-abu untuk menunjukkan yang mana warna abu-abu. Atau mungkin dengan menunjukkan benda yang mewakili warna tersebut. Jadi jangan harapkan anak anda menjadi insan menawan, sopan, dan bersih, jika anda sendiri tidak menerapkan bagaimana konsep sopan, menawan, dan bersih itu. Jangan harapkan anak anda disiplin ataupun cerdas, kalau anda sendiri tidak menerapkan sistem disiplin dan cerdas tersebut. Jangan harapkan anak anda tahu beribadah, kalau anda sendiri tidak beribadah. Mari menjadi wanita yang jauh lebih baik.

Terima kasih kawan lamaku, karena telah mendengarkan keluh-kesahku sore itu. Bahkan aku selalu merindukan perbincangan-perbincangan bermutu ketika kita menghabiskan waktu bersama. Besok-besok temani aku lagi di laboratorium yah..haha..

Ps: Thanks for meatball time-nya dear..:*

Bogor, 10 Oktober 2014.
_Shine_

Minggu, 17 November 2013

Akhwat [Wanita]



Bismillah..
Ide tulisan ini sebenarnya telah lama ada dalam benak, namun berhubung otak saat ipublishing. Ide ini muncul ketika aku tengah bertandang di Masjid Al- Hurriyah IPB Bogor. Selamat membaca.
tu tengah dijejali berbagai materi ujian, mulai dari biokimia molekular, analisis statistik, hingga kinetika dan aplikasi enzim, jadilah baru kali ini berkesempatan mem-

Segar sisa air wudhu masih membekas pada pelipis wajahku. Semburat merah muda di wajahku, menggambarkan sore ini sedikit lebih dingin dari biasanya. Tanah tepat di depan halaman masjid terlihat masih basah akibat guyuran tetesan hujan yang rutin datang tiap penghujung senja di Kota Hujan, Bogor. Jemariku sibuk memasang kedua buah sepatuku sembari aku mengamati setiap kejadian yang berlangsung di sekelilingku. Tanpa sengaja aku mendengar sepenggal percakapan antara para wanita dalam majelis pembacaan Quran yang sepertinya sedang mendiskusikan bagaimana berdakwah dengan baik.

Desiran angin membawa aroma hujan yang aku senangi, masih seperti biasa menurutku. Sungguh mulia mereka yang tengah dalam majelis tadi. Namun, aku mendapati kondisi kontras tepat di sekitaran masjid tempat majelis itu. Aku mendengar seorang wanita, yang menurutku berusia beberapa tahun lebih muda dariku bersama satu orang temannya. Penampilan mereka sangat modis dan keren. Ternyata mereka tengah membahas kegalauan mereka.

Salah satu dari mereka bertanya kepada yang lainnya, apakah sesungguhnya arti kata “akhwat” itu dan apakah mereka bisa suatu saat nanti bisa menjadi “akhwat” seperti teman mereka yang tengah bermajelis. Nampaknya mereka kebingungan, seolah mereka hendak menuju jalan benar dengan taubat yang bersungguh-sungguh, tetapi mereka ragu apakah mereka sanggup melaluinya dengan metamorfosis baru mereka. Dan aku pun berlalu meninggalkan mereka dan percakapan inspiratif mereka.

Kaki aku ayunkan kembali menuju rumah, mencoba memilih angkot mana yang nyaman untuk aku tumpangi kali ini. Masih seperti biasanya, setelah menaiki angkot, mencari posisi duduk ternyaman, headphone terpasang rapi menutupi telingaku, mencoba menikmati rutinitas “macet” di kota yang konon disebut sebagai kota seribu angkot. Playlist aku atur sedemikian rupa dan angin sore masuk melalui jendela mobil yang terbuka lebar, menghindari pengap.

Lamunan di otak ku bermain diantara neuron-neuron, mencoba me-refresh dua percakapan kontras di masjid tadi. Lalu aku bertanya dalam hati, apakah iya yang disebut akhwat dan ukhti itu hanya mereka yang sedang dalam majelis tadi? Yang berbusana “khas” ala perempuan arab? Berarti aku pun bukan akhwat ataupun ukhti. Karena aku menggunakan baju kaos lengan panjang yang dipadukan dengan jilbab model segitiga dan bawahan jeans. Tetapi bukankah akhwat dan ukhti itu berarti perempuan? Ketidakpuasan menyeruak tiba-tiba, dan batin bersikeras harus mendapat jawaban kegalauanku kali ini, pasti dapat, insya allah.

Sesampainya aku di rumah, kubuka kamus arab-indonesia sembari jemariku mengetik pencarian makna akhwat dan ukhti di internet. Belum lagi aku lepas pakaian yang aku kenakan sepulang kampus, tahu-tahunya aku telah larut mencari jawabannya. Permainan filosofi kembali menguasaiku.

Dari semua sumber yang aku gunakan, kesemuanya menjawab arti dan makna kata akhwat dan ukhti itu berarti sebutan untuk “perempuan” atau “wanita”. Namun, mengapa kebanyakan dari mereka di luar sana menyebut akhwat dan ukhti itu hanya bagi mereka yang berbusana “khas”, seolah kami yang “diluar kebiasaan” itu bukan akhwat dan ukhti. Aku juga pernah berdialog dengan teman lelaki sekelasku, dia melontarkan pernyataan jika dia ingin sekali menikahi seorang gadis akhwat. Kemudian teman lelaki lainnya menimpali pernyataan teman tadi dengan sedikit gurauan yang cukup menghentakkan hati. “Loh, bukannya memang kita sebagai lelaki akan menikahi wanita, ikhwan akan menikahi akhwat, bukan lelaki dan lelaki atau ikhwan dengan ikhwan. Itukan aneh yah..?”, cakap temanku. Batinku tersenyum mendengarnya.

Ternyata pikiran kita seringkali terlalu sempit mendefenisikan dan memaknai suatu kata bahkan masalah sekalipun, yang malah membuat kita terlihat berakal dangkal. Mengapa kita mengotak-kotakan kaum dengan pe-labelan yang diciptakan dari standar manusia? Bukankah yang berhak menilai secara keseluruhan hanya ALLAH swt. Sebagai manusia, tanpa disadari sering kita menyematkan label-label yang menyudutkan atau membuat jarak manusia yang satu dengan yang lainnya semakin melebar. Bukankah seharusnya sebutan “akhwat dan ukhti” itu untuk mengajak mereka yang tersesat, kembali ke jalan ALLAH? Bukan malah makin mempertegas jikalau mereka seolah tak pantas untuk berbuat yang lebih baik, seperti perbincangan kedua gadis yang dalam hati kecilnya ingin mencicipi nikmatnya menjadi akhwat dan ukhti sesungguhnya.

Pernah suatu waktu aku berdialog dengan salah satu “Gus” yang tidak ingin disebut “Gus” dan lebih nyaman disebut “abang” karena menghindari kekakuan saat berdiskusi, aku menanyakan tentang cara berdakwah yang baik itu seperti apa, apakah harus menggunakan pakaian serba ustadzah dulu baru ceramah? Dan jawaban sederhana terlontar darinya, diikuti penjelasan yang cukup runtut, kurang lebih seperti ini:

Nhia, berdakwah itu harus disesuaikan. Tidak harus kita berpakaian serba formal untuk berdakwah. Bukankah menyampaikan walaupun satu ayat itu adalah termasuk bentuk dakwah sederhana. Jangan sampai justru pakaian kita itu menjadi pagar besi pemisah antara kita dan orang yang hendak kita ajak ke jalan ALLAH. ALLAH Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana. Jangan sampai justru pakaian kita menjadikan kita sombong dan lupa akan niat awal kita untuk berdakwah. Jangan sampai pelabelan “akhwat dan ukhti” itu menjadikan kita merasa benar sendiri dan di atas angin sampai lupa jika masyarakat me-labeli kita agar kita menjadi panutan, bukan malah membuat mereka yang berbusana “diluar dari kebiasaan” kita menjadi pesimis apakah pantas ia kelak mendapat label ukhti dan akhwat tadi. Terkadang ada waktunya dakwah itu melalui nyanyian, syair, tulisan, diskusi non-formal, pada saat mengajar dengan menanamkan nilai-nilai islami pada mata pelajaran yang tengah di ajarkan, pidato, ceramah, atau bahkan bentuk-bentuk kreatif lainnya. Selama masih dalam koridor islami, berdakwa-lah sesuai apa yang menjadi kelebihan mu.

Berpikirlah lebih luas dari langit, berperilakulah sederhana se-sederhana angin yang berhembus dari mana saja dan kemana saja, dan berstrategi-lah seperti kompleksnya alam.

At the end, I am akhwat..and every women is akhwat.

Semoga kita terangkum dalam kaum yang dirahmati ALLAH swt., amin.. ^_^

Gadisku, adindaku..
Dia Maha Melihat,
Jangan runcingkan jarakmu yang betapa jauh dari-Nya
hanya karena kau bukan akhwat.
Bukan..
Bukan itu maksud ALLAH menghadirkan kosa kata dan akal pada tubuh.
Sesungguhnya agar kalian berpikir dan kalian gunakan pada syiar mulia kalian.

Cukup AKU yang menilai kalian!
Jangan sekali-sekali ciptakan angka untuk mengukur yang diluar ranah jamahan kalian!
Jangan pernah!
Karena bisa jadi apa yang kalian lihat buruk adalah yang baik dan yang baik adalah yang terburuk.
Tundukkanlah kepala kalian!
Jangan sampai kesombongan berada dalam setiap liter darah kalian.
Larut bersama nutrisi yang seharusnya memuliakan kalian,
malah menjadikan kalian tak lebih sebagai “sang pengotak” yang meregangkan ikatan silaturrahim.

Adindaku,
Ulurkanlah jilbabmu dan tutupi auratmu.
Bersama-sama kita menuju surga.
Ingatlah,
Tak akan kita dapati sesuatu jika kita tak pernah meminta.
Minta-lah dan percayalah itu menyelamatkanmu kelak, dunia akhirat.

Adindaku,
Aku masih menggenggam tanganmu.
Bersama kita menuju surga, insya allah.
Ada kedudukan khusus untuk kita yang harus kita tahu.
Dan itu nyata!
Karena kita akhwat.



Dramaga, 17 November 2013

Nhia Hammado

Rabu, 23 Oktober 2013

LIVE WAY

Jalan setapak itu memberikan inspirasi. Pagi itu aku baui embun yang masih pekat saling berikatan. Masih di jalan yang selalu aku tapaki setiap harinya, hanya saja ada yang berbeda pagi ini. Entah mengapa, sekelebat ide melahirkan argumen demi argumen. Iseng saja, kemudian aku rangkai menadi satu bacaan segar untuk sejenak kita renungi. Pagi yang menakjubkan.

Dimulai dengan jadwal yang begitu padat, tepat pukul 07.00 WIB di pagi hari, angkot jurusan Ciampea pun menjadi pilihan untuk menghindari kemacetan dan efisiensi waktu. Kota yang konon kabarnya adalah kota seribu angkot, tempat dimana inspirasi demi inspirasi lahir selama masa rantau untuk masa depan yang lebih baik. Sempurna, pagi ini tidak ada macet. Dan seperti biasanya, setiap jejak dalam perjalanan menjadi objek pengamatanku.

Tibalah aku pada jalan yang selalu aku pilih untuk mempersingkat rute tempuh menuju gedung perkuliahan. Satu, dua, tiga, dan empat langkah, melalui puluhan spesies mahluk hidup yang saling bersimbiosis satu sama lain. Kemudian, upss..saya terpeleset. 

Segera bangkit dari terjatuh tadi, bergegas membersihkan bagian lutut celana (karena saat terpeleset, aku mengusahakan jatuhku harus bertumpu pada lutut guna menghindari cedera parah, seperti keseleo dan lainnya). Medan yang dilalui memang berlumut pagi ini, jadwal rutin hujan di kota Bogor menjadi alasan banyaknya tumbuh spesies lumut.

Saat aku berdiri, sontak saja dialog antara aku dan otakku berlangsung. Seolah diatur sedemikian rupa, proses rekapitulasi kejadian muncul berbarengan dengan munculnya senyum simpul di wajah. Bagaimana tidak, aneh saja rasanya tiba-tiba sederet rekaman kejadian ulang terputar tahap demi tahap. Sejenak aku renungi, tepat saat titik bias sang fajar jatuh di permukaan danau Fakultas Perikanan. Anggun nian cahayanya, membuatku lupa sakitnya terpeleset tadi. Airnya yang beriak, tanda tak dalam menambah keeksotikan ciptaan-Nya.

Dan renungan dimulai…

Hidup itu seperti jalan yang kita tempuh setiap harinya dari kost menuju kampus. Medannya berbeda-beda, tergantung siapa yang menjalaninya. Cara pemilihan jalan yang akan dilalui pun berbeda antara satu individu dengan yang lainnya. Tergantung prinsip yang diemban sang empunya kaki. Tapi, pada dasarnya ada hal yang menyamakan antara yang satu dengan yang lainnya, yaitu bagaimana mengupayakan melalui jalan yang tercepat, termudah, dan dapat dinikmati diri sendiri.

Ada yang memilih sedikit bersusah-susah dengan berjalan kaki, karena ingin mencoba menikmati perjalanannya. Ada juga yang dengan alasan menghemat ongkos. Ada yang memilih menggunakan ojek, karena cepat, tidak perlu berdesak-desakan, dan agak ribet jika harus berinteraksi dengan orang banyak. Ada pula yang memilih menggunakan bus dalam kampus, karena ia menikmati saat berdesakan dan berkompetisi dengan orang lain, saat menanti depan pemberhentian bus, atau saat menikmati keindahan lainnya yang ada di dalam bus.

Tidak jarang cara kita memilih jalan yang dilalui dipengaruhi oleh “dengan siapa kita menempuh perjalanan”. Jika teman seperjalanan kita menyarankan satu rute jalan, dan menurut otak cukup masuk akal, maka akan kita pilih jalan itu. Tidak jarang pula, teman seperjalanan tadi ditinggalkan karena tidak sependapat dengan arah yang telah kita tentukan sebelumnya. Tentunya sesuai dengan banyak pertimbangan.

Pengalaman juga menjadi satu dari sekian banyak alasan mengapa jalan itu terpilih untuk dilalui. Entah itu karena kejadian yang membangkitkan rasa bahagia, atau karena ada ketakutan ketika melewati jalan itu. Seringkali juga ada kejadian-kejadian yang menghambat perjalanan menuju tujuan kita. Entah itu karena tersandung kerikil atau malah seperti kejadian yang menimpaku pagi ini, terjatuh.

Tidak penting bagaimana saat kita terjatuh saat kejadian itu berlangsung, tetapi bagaimana kita bersegera berdiri, membenarkan posisi, dan membersihkan sisa kotoran saat terjatuh. Namun, terkadang ada luka atau lecet kecil hingga besar saat kita terjatuh. Sakitnya pasti terasa, tetapi sensasinya berbeda setiap orangnya. Ada yang berlebihan menanggapinya, ada yang cuek saja seolah tidak merasakan apapun. Terkadang lukanya pun memberikan bekas, yang entah bisa hilang atau tidak, yang pasti setiap orang memiliki usaha untuk mengobatinya.

Nantilah setelah lama kita beranjak dari tempat kita terjatuh, barulah aksi merenungi itu muncul. Semua itu dilakukan oleh manusia, agar mereka dapat menghindari kejadian tidak mengenakkan tersebut. Bahkan, ada yang baru melakukan refleksi diri, sehari atau bahkan seminggu setelah ia terjatuh. Setidaknya, ketika sakit itu masih terasa.

Dan tibalah ketika kita mencapai tempat yang dituju. Syukur benar-benar menyelimuti relung hati, menjumpai orang-orang yang menyemangati dan menjadi alasan kita berjuang sejauh ini. Bersyukur karena masih diberi kesempatan memilih rute yang akan dijalani. Bersyukur telah dipertemukan orang-orang, baik yang baru maupun yang telah lama dikenali, ketika menempuh perjalanan tadi. Tentunya bukan tanpa tujuan yang jelas, seseorang memilih dan melalui jalan yang telah dipilihnya. Itulah muasabah “JALAN” pagi ini.

Nhia Hammado

Dramaga, IPB Bogor 2013

Sabtu, 21 September 2013

Untitled

Sejenak aku hentikan tarian dalam benak, mencoba menelaah dan memahami maksud Sang Pencipta. Ada haru dan tangis yang memaksa untuk tertuang begitu saja. Jika hendak aku memilih, akan aku jadikan diriku laksana sehelai bulu yang terbang sekenanya melalui bias-bias cahaya matahari. Baru saja penglihatanku terkesimak takjub pada helaian satu bulu yang berlenggak menjauh berdansa dengan sang angin.

Tuhanku Sang Pencipta,

Ada jutaan alasan aku untuk berbagi senyuman ini. Dan tak kutemui satu pun alasan tepat agar lengkungan garis senyuman itu pudar. Tetapi kepenatan dan “kesendirian” ku mengajakku bermain pada ranah kegusaran yang semakin menjadi-jadi. Akh..aku harus mampu dan memang harus bisa. Jauh kaki ini ku langkahkan, kutinggalkan kebahagiaan dan kehidupan di masa kecil ku, dengan tujuan berjihad di jalan-Nya. Lantas, masihkah kaki ini bergetar hendak mundur dari pijakannya.

Aku hentakkan dengan keras kedua tiang penyanggaku, kutanamkan kakiku pada tanah, agar tanah tahu bahwa aku tak gentar menyibakkan setiap masalah yang menghalangi pandanganku. Kubenamkan kerinduanku yang terdalam pada kedua tangan, diiringi air mata yang mengalir syahdu bermunajat agar sekiranya Sang Maha Kuasa membesarkan hatiku.

Aku teriakkan lantang:
AKU-LAH SANG WARIOR..!!

Ditanganku adalah kemenangan yang mutlak harus aku taklukkan dari nasibku.
Akan aku tuju garis akhir itu..
Cepat atau lambat, dentang jarum jam pun akan menaruh hati padaku, mendoakan agar setiap kebaikan mendampingi tiap langkahku menuju-Nya.
Yah..yang kupunya hanya tekad, keyakinan dan doa. Dan senjataku adalah ikhtiarku.

Bismillah..

Aku NURUL ICHSANIA mengikrarkan segala kebahagiaan dan cita-cita mulia orang tua dan orang yang menyayangiku akan segera aku wujudkan, amin.

(Dalam jeda yang terbilang, aku bersujud, menyingkirkan segenap keluh dalam tiap butiran peluh, untukku, dan untuk masa depanku).

21 September 2013

Bogor, Jawa Barat

Sabtu, 24 Agustus 2013

SUCCESS

Apa yang kau harapkan?
Benarkah SUKSES yang menjadi tujuanmu?
Lantas apakah KAMU SUDAH SUKSES?


Ketika ditanya, menurut kamu sukses itu apa?
Berbagai versi jawaban bermunculan.
Tapi benang merah dari keseluruhan defenisi, bahwa sukses itu adalah sebuah proses.
Hasil hanya tolak ukur seberapa keras usaha kita untuk benar-benar sukses.

Ketika ada orang yang hanya duduk diam saja, sebenarnya mereka telah sukses.
Iya, mereka sukses untuk menjadi tidak berarti dan bukan apa-apa untuk diperhitungkan.
Dan kalau pun ada yang mengatakan mereka adalah orang yang gagal, berarti konsep yang dihadirkan berdasarkan standar orang yang menilai. Jadi, sesungguhnya yang harus diperhatikan adalah standar yang digunakan untuk menjalani hidup. Satu-satunya untuk menjadi lebih adalah dengan memasang standar lebih untuk meraih sukses itu. Karena, walaupun sukses adalah sebuah proses, tetapi hampir semua orang menilai berdasarkan hasilnya. Meskipun aksi menyenangkan setiap orang adalah hal sia-sia, tapi pengaktualisasian diri adalah menjadi kebutuhan setiap manusia.

Sukses bukan hanya keinginan individu yang terkait. Terkadang di dalamnya terangkum keinginan dan harapan-harapan dari orang yang mencintai individu tersebut, semisal orang tua, suami/ istri, kekasih, pendidik, bahkan dari orang-orang yang tidak dibayangkan sebelumnya. Tetapi seringkali ditemui kesalahan-kesalahn ketika seseorang hendak mengungkapkan rasa pedulinya akan kesuksesan orang yang mereka sayangi. Ada yang mendorong terlalu kuat, hingga terkesan mengekang dan mencekik. Ada pula yang terlalu mengendorkan, sehingga terkesan kebablasan dan terlihat tidak peduli dengan kesuksesan orang yang mereka sayangi.

Perilaku orang sekitar cukup berperan besar menciptakan kesuksesan. Contoh yang paling sederhana adalah perbedaan orang tua yang sayang dan yang memanjakan anak mereka. Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda dilihat dari tingkat usia dan urgent tidaknya kebutuhan itu. Anak yang berusia 8 tahun memiliki kebutuhan yang tidak sama dengan anak yang berusia 12 tahun. Rasa tanggung jawab dan pemahaman mereka tentang arti kepemilikan juga berbeda. Sehingga, mengikuti semua kemauan anak bukan menjadi solusi tepat menunjukkan rasa sayang. Penolakan dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan kepada anak sesuai dengan kemampuan bahasa sang anak, tentunya juga harus sesuai dengan usia mereka.

Sperti halnya ketika Tuhan yang belum mengabulkan permintaan, entah karena penundaan atau penggantian dengan apa yang lebih dibutuhkan. Mungkin karena cara meminta yang kurang tepat atau doa itu tengah menunggu waktu yang tepat untuk terwujud. Teringat dengan pesan bijak tua yang mengatakan meminta-lah apa yang kau butuhkan, jangan meminta apa yang kau inginkan. Karena apa yang diinginkan belum tentu menjadi apa yang dibutuhkan, dan apa yang dibutuhkan cepat atau lambat akan berubah menjadi apa yang diinginkan. Tuhan selalu punya cara untuk mengasihi, dan setiap manusia akan mendapatkan jalan yang berbeda-beda dan variatif. Seperti juga manusia menyayangi mahluk hidup dengan cara yang juga beragam. Sehingga kurang tepat kiranya jika penilaian hanya berdasarkan standar perseorangan. Mungkin ada baiknya standar itu perlu disesuaikan, dan itulah gunanya komunikasi

Lalu, apa yang dapat disimipulkan dari sederet penjelasan di atas mengenai kesuksesan? 

Untuk menjadi sukses diperlukan adaptasi berupa kerja keras (usaha), tekad, kedisiplinan, keihklasan, dan pengertian. Apabila semua itu telah dilaksanakan dengan tertib, maka peluang untuk sukses menjadi semakin besar. Jadi tidaklah salah jika kebanyakan filsuf mengatakan sukses itu adalah sebuah proses, hasil hanyalah betuk ukuran seberapa besar usaha yang telah diupayakan untuk mewujudkan sukses itu. Tapi, apakah setelah sukses lantas dapat dikatakan berhasil? Belum! Bersyukur menjadi kuncinya. Apapun yang kita lakukan patut disyukuri. Kalau pun tidak sesuai target yang diharapkan, berarti perlu diadakan pengkajian lebih lanjut mengenai cara meraih sukses itu, besar upaya kita menggapai sukses, dan mantap tidaknya niat kita menjadi sukses.

Sekarang sukses tidaknya adalah kembali menjadi sebuah pilihan. Karena hidup adalah sebuah pilihan, meskipun seseorang memilih untuk "tidak memilih" sesungguhnya saat itu pula mereka "telah" memilih.


Sekarang, yakinkan diri Anda benarkah SUKSES menjadi salah satu tujuan hidup Anda?
Jika memang iya, perbaiki proses menuju sukses itu.
Dan ketika sukses itu telah ada, jangan pernah lupa syukuri!

Sekian hasil pemikiran saya. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan.
Mari berbagi untuk hasil yang lebih baik.

Bogor, 25 Agustus 2013
Nurul Ichsania Hammado, S. Pd.

Kamis, 13 Juni 2013

Wanita Mandiri


Wanita adalah mahluk yang luar biasa. Selain mengemban tugas sebagai pribadinya yang sekarang, wanita juga harus mampu menjadi sosok ibu untuk anaknya, sosok istri untuk suaminya, sosok sahabat untuk temannya, sosok berkharisma untuk pekerjaannya, serta sosok menghamba pada penciptanya. Wanita juga identik dengan kecantikan. Hampir semua wanita ingin terlihat cantik dari yang memandang mereka. Namun, alangkah baiknya jika kecantikan yang terpancar bukan hanya sebatas mata memandang (outter), kecantikan akan lebih sempurna jika juga terpancar dari dalam diri wanita itu (inner).

Salah satu ciri sehingga wanita terlihat menawan, cantik, dan seksi adalah mereka yang mandiri. Wanita yang mandiri bukan hanya mereka yang berseragam rapi, bukan hanya mereka yang bekerja di gedung-gedung ataupun yang sibuk bergelut dengan para relasi dan customer. Wanita mandiri adalah mereka yang menghasilkan, mampu membantu meringankan beban hidup dirinya ataupun keluarganya, dan yang mau berusaha dengan cara yang halal.

Menjadi wanita yang mandiri tidak-lah sulit, asalkan memang sang wanita telah menanamkan niat dan tekad yang kuat untuk menjadi wanita yang mandiri. Tentu saja niat tidak akan cukup, niat harus-lah diikuti dengan bentuk kerja yang nyata. Ingat, tidak harus menjadi pegawai kantoran untuk disebut sebagai wanita yang mandiri. Ada baiknya jika kita memahami satu kalimat yang pernah diucapkan oleh ibu saya, “Pekerjaan apapun akan saya lakukan, asalkan halal. Tidak peduli jika tanganku kasar, badanku letih, atau aku mendapat ejekan dari orang yang sirik. Asalkan apa yang aku lakukan halal demi kebahagiaan keluargaku”. Ada juga kalimat lain yang pernah dibagikan oleh salah seorang saudariku, “apapun yang aku lakukan, meskipun aku terancam sekali pun semua aku lakukan di jalan yang diberkahi dan halal, semata-mata sebagai bentuk ibadahku kepada Penciptaku dan bentuk pengabdianku pada keluargaku, suamiku, terutama anak-anakku, agar kelak mereka tidak menyesali diriku sebagai ibunya”. Luar biasa penghargaan wanita yang mandiri.

Apabila ditelaah lebih lanjut, mungkin akan terbersit dalam benak jika menjadi wanita yang mandiri adalah hal yang sulit dan membutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Memang benar, jika dibutuhkan pengorbanan. Akan tetapi menjadi hal yang sulit bukan-lah sebuah alasan untuk tidak mencoba! Banyak hal-hal sederhana yang dapat dilakukan untuk menjadi wanita yang mandiri. Perlu dipahami juga jika wanita mandiri bukanlah wanita yang tidak berinteraksi dengan orang lain, melainkan wanita yang keberadaannya tidak menimbulkan masalah, perpecahan, ataupun pertengkaran dalam lingkungannya. Bukankah menyenangkan apabila kedatangan kita dirindukan orang lain dan kepergian kita ditangisi orang lain.

Setelah membahas beberapa defenisi dan pengertian wanita mandiri, ada beberapa bentuk perwujudan wanita yang mandiri yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik oleh mereka yang telah berkeluarga ataupun yang masih sendiri. Mari memulai membuka mata batin!

1.    Mulai dari hal yang sederhana. Untuk meringankan beban keluarga terpikirkan untuk bagaimana usaha yang tentunya akan mendatangkan keuntungan sekaligus sebagai penghasilan tambahan. Salah satu bentuk usaha yang paling sederhana adalah usaha catering rumahan. Tidak perlu memproduksi dalam jumlah yang besar, cukup untuk diperjualbelikan di lingkungan sekitar, sperti tetangga atau keluarga. Caranya mudah, kita dapat mempromosikan melalui kegiatan-kegiatan sosial yang tengah kita ikuti. Selain tak harus meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang lama, kita juga bisa memberdayakan masyarakat sekitar untuk turut serta dalam kegiatan bermanfaat dan berpenghasilan. Jika anda merasa kurang mampu dalam dunia catering, bisnis online juga bias menjadi salah satu pilihan untuk menambah penghasilan. Untuk tahap awal anda cukup menjadi distributor barang. Namun jika anda memiliki skill untuk menghasilkan produk, anda juga dapat berperan ganda menjadi produsen sekaligus menjadi distributor. Hitung-hitung dana yang masuk bias seratus persen menjadi hak anda.
2.    Mulai dari diri sendiri. Pada taraf yang lebih tinggi, anda bisa memilih profesi sebagai translater, jasa pengetikan, guru private. Untuk pilihan yang terakhir, anda bisa mengatur tempat pengajaran berlangsung. Jika tidak ingin repot, anda cukup membuat kesepakatan dengan orang tua murid apakah tempat pengajaran bisa dilakukan di rumah anda saja, jika memang memungkinkan dan kondusif. Intinya memang telah ada niat dalam hati dan pikiran anda. Tinggal mewujudkan action.
3.    Mulai dari sekarang. Tidak perlu menunggu kapan waktu yang tepat untuk menjadi wanita mandiri. Semakin lama kita berpikir, semakin banyak waktu berharga yang kita buang. Padahal mungkin saja sudah banyak keuntungan yang tanpa kita sadari telah terlepas dari tangan kita.


Jadi, masih-kah ada alasan untuk mengatakan menjadi wanita mandiri itu adalah hal yang sulit? Perlu diingat, jika wanita mandiri merupakan salah satu bentuk kecantikan wanita yang datangnya dari dalam (inner). Menjadi wanita itu harus tegar seperti karang, dan lembut selembut angin. Aku bangga menjadi seorang wanita. Alhamdulillah.