Minggu, 17 November 2013

Akhwat [Wanita]



Bismillah..
Ide tulisan ini sebenarnya telah lama ada dalam benak, namun berhubung otak saat ipublishing. Ide ini muncul ketika aku tengah bertandang di Masjid Al- Hurriyah IPB Bogor. Selamat membaca.
tu tengah dijejali berbagai materi ujian, mulai dari biokimia molekular, analisis statistik, hingga kinetika dan aplikasi enzim, jadilah baru kali ini berkesempatan mem-

Segar sisa air wudhu masih membekas pada pelipis wajahku. Semburat merah muda di wajahku, menggambarkan sore ini sedikit lebih dingin dari biasanya. Tanah tepat di depan halaman masjid terlihat masih basah akibat guyuran tetesan hujan yang rutin datang tiap penghujung senja di Kota Hujan, Bogor. Jemariku sibuk memasang kedua buah sepatuku sembari aku mengamati setiap kejadian yang berlangsung di sekelilingku. Tanpa sengaja aku mendengar sepenggal percakapan antara para wanita dalam majelis pembacaan Quran yang sepertinya sedang mendiskusikan bagaimana berdakwah dengan baik.

Desiran angin membawa aroma hujan yang aku senangi, masih seperti biasa menurutku. Sungguh mulia mereka yang tengah dalam majelis tadi. Namun, aku mendapati kondisi kontras tepat di sekitaran masjid tempat majelis itu. Aku mendengar seorang wanita, yang menurutku berusia beberapa tahun lebih muda dariku bersama satu orang temannya. Penampilan mereka sangat modis dan keren. Ternyata mereka tengah membahas kegalauan mereka.

Salah satu dari mereka bertanya kepada yang lainnya, apakah sesungguhnya arti kata “akhwat” itu dan apakah mereka bisa suatu saat nanti bisa menjadi “akhwat” seperti teman mereka yang tengah bermajelis. Nampaknya mereka kebingungan, seolah mereka hendak menuju jalan benar dengan taubat yang bersungguh-sungguh, tetapi mereka ragu apakah mereka sanggup melaluinya dengan metamorfosis baru mereka. Dan aku pun berlalu meninggalkan mereka dan percakapan inspiratif mereka.

Kaki aku ayunkan kembali menuju rumah, mencoba memilih angkot mana yang nyaman untuk aku tumpangi kali ini. Masih seperti biasanya, setelah menaiki angkot, mencari posisi duduk ternyaman, headphone terpasang rapi menutupi telingaku, mencoba menikmati rutinitas “macet” di kota yang konon disebut sebagai kota seribu angkot. Playlist aku atur sedemikian rupa dan angin sore masuk melalui jendela mobil yang terbuka lebar, menghindari pengap.

Lamunan di otak ku bermain diantara neuron-neuron, mencoba me-refresh dua percakapan kontras di masjid tadi. Lalu aku bertanya dalam hati, apakah iya yang disebut akhwat dan ukhti itu hanya mereka yang sedang dalam majelis tadi? Yang berbusana “khas” ala perempuan arab? Berarti aku pun bukan akhwat ataupun ukhti. Karena aku menggunakan baju kaos lengan panjang yang dipadukan dengan jilbab model segitiga dan bawahan jeans. Tetapi bukankah akhwat dan ukhti itu berarti perempuan? Ketidakpuasan menyeruak tiba-tiba, dan batin bersikeras harus mendapat jawaban kegalauanku kali ini, pasti dapat, insya allah.

Sesampainya aku di rumah, kubuka kamus arab-indonesia sembari jemariku mengetik pencarian makna akhwat dan ukhti di internet. Belum lagi aku lepas pakaian yang aku kenakan sepulang kampus, tahu-tahunya aku telah larut mencari jawabannya. Permainan filosofi kembali menguasaiku.

Dari semua sumber yang aku gunakan, kesemuanya menjawab arti dan makna kata akhwat dan ukhti itu berarti sebutan untuk “perempuan” atau “wanita”. Namun, mengapa kebanyakan dari mereka di luar sana menyebut akhwat dan ukhti itu hanya bagi mereka yang berbusana “khas”, seolah kami yang “diluar kebiasaan” itu bukan akhwat dan ukhti. Aku juga pernah berdialog dengan teman lelaki sekelasku, dia melontarkan pernyataan jika dia ingin sekali menikahi seorang gadis akhwat. Kemudian teman lelaki lainnya menimpali pernyataan teman tadi dengan sedikit gurauan yang cukup menghentakkan hati. “Loh, bukannya memang kita sebagai lelaki akan menikahi wanita, ikhwan akan menikahi akhwat, bukan lelaki dan lelaki atau ikhwan dengan ikhwan. Itukan aneh yah..?”, cakap temanku. Batinku tersenyum mendengarnya.

Ternyata pikiran kita seringkali terlalu sempit mendefenisikan dan memaknai suatu kata bahkan masalah sekalipun, yang malah membuat kita terlihat berakal dangkal. Mengapa kita mengotak-kotakan kaum dengan pe-labelan yang diciptakan dari standar manusia? Bukankah yang berhak menilai secara keseluruhan hanya ALLAH swt. Sebagai manusia, tanpa disadari sering kita menyematkan label-label yang menyudutkan atau membuat jarak manusia yang satu dengan yang lainnya semakin melebar. Bukankah seharusnya sebutan “akhwat dan ukhti” itu untuk mengajak mereka yang tersesat, kembali ke jalan ALLAH? Bukan malah makin mempertegas jikalau mereka seolah tak pantas untuk berbuat yang lebih baik, seperti perbincangan kedua gadis yang dalam hati kecilnya ingin mencicipi nikmatnya menjadi akhwat dan ukhti sesungguhnya.

Pernah suatu waktu aku berdialog dengan salah satu “Gus” yang tidak ingin disebut “Gus” dan lebih nyaman disebut “abang” karena menghindari kekakuan saat berdiskusi, aku menanyakan tentang cara berdakwah yang baik itu seperti apa, apakah harus menggunakan pakaian serba ustadzah dulu baru ceramah? Dan jawaban sederhana terlontar darinya, diikuti penjelasan yang cukup runtut, kurang lebih seperti ini:

Nhia, berdakwah itu harus disesuaikan. Tidak harus kita berpakaian serba formal untuk berdakwah. Bukankah menyampaikan walaupun satu ayat itu adalah termasuk bentuk dakwah sederhana. Jangan sampai justru pakaian kita itu menjadi pagar besi pemisah antara kita dan orang yang hendak kita ajak ke jalan ALLAH. ALLAH Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana. Jangan sampai justru pakaian kita menjadikan kita sombong dan lupa akan niat awal kita untuk berdakwah. Jangan sampai pelabelan “akhwat dan ukhti” itu menjadikan kita merasa benar sendiri dan di atas angin sampai lupa jika masyarakat me-labeli kita agar kita menjadi panutan, bukan malah membuat mereka yang berbusana “diluar dari kebiasaan” kita menjadi pesimis apakah pantas ia kelak mendapat label ukhti dan akhwat tadi. Terkadang ada waktunya dakwah itu melalui nyanyian, syair, tulisan, diskusi non-formal, pada saat mengajar dengan menanamkan nilai-nilai islami pada mata pelajaran yang tengah di ajarkan, pidato, ceramah, atau bahkan bentuk-bentuk kreatif lainnya. Selama masih dalam koridor islami, berdakwa-lah sesuai apa yang menjadi kelebihan mu.

Berpikirlah lebih luas dari langit, berperilakulah sederhana se-sederhana angin yang berhembus dari mana saja dan kemana saja, dan berstrategi-lah seperti kompleksnya alam.

At the end, I am akhwat..and every women is akhwat.

Semoga kita terangkum dalam kaum yang dirahmati ALLAH swt., amin.. ^_^

Gadisku, adindaku..
Dia Maha Melihat,
Jangan runcingkan jarakmu yang betapa jauh dari-Nya
hanya karena kau bukan akhwat.
Bukan..
Bukan itu maksud ALLAH menghadirkan kosa kata dan akal pada tubuh.
Sesungguhnya agar kalian berpikir dan kalian gunakan pada syiar mulia kalian.

Cukup AKU yang menilai kalian!
Jangan sekali-sekali ciptakan angka untuk mengukur yang diluar ranah jamahan kalian!
Jangan pernah!
Karena bisa jadi apa yang kalian lihat buruk adalah yang baik dan yang baik adalah yang terburuk.
Tundukkanlah kepala kalian!
Jangan sampai kesombongan berada dalam setiap liter darah kalian.
Larut bersama nutrisi yang seharusnya memuliakan kalian,
malah menjadikan kalian tak lebih sebagai “sang pengotak” yang meregangkan ikatan silaturrahim.

Adindaku,
Ulurkanlah jilbabmu dan tutupi auratmu.
Bersama-sama kita menuju surga.
Ingatlah,
Tak akan kita dapati sesuatu jika kita tak pernah meminta.
Minta-lah dan percayalah itu menyelamatkanmu kelak, dunia akhirat.

Adindaku,
Aku masih menggenggam tanganmu.
Bersama kita menuju surga, insya allah.
Ada kedudukan khusus untuk kita yang harus kita tahu.
Dan itu nyata!
Karena kita akhwat.



Dramaga, 17 November 2013

Nhia Hammado

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks buat komentarx..:)