Ide tulisan ini
sebenarnya telah lama ada dalam benak, namun berhubung otak saat ipublishing. Ide ini
muncul ketika aku tengah bertandang di Masjid Al- Hurriyah IPB Bogor. Selamat
membaca.
tu tengah dijejali berbagai materi ujian, mulai dari biokimia molekular, analisis statistik, hingga kinetika dan aplikasi enzim, jadilah baru kali ini berkesempatan mem-
tu tengah dijejali berbagai materi ujian, mulai dari biokimia molekular, analisis statistik, hingga kinetika dan aplikasi enzim, jadilah baru kali ini berkesempatan mem-
Segar sisa air
wudhu masih membekas pada pelipis wajahku. Semburat merah muda di wajahku,
menggambarkan sore ini sedikit lebih dingin dari biasanya. Tanah tepat di depan
halaman masjid terlihat masih basah akibat guyuran tetesan hujan yang rutin
datang tiap penghujung senja di Kota Hujan, Bogor. Jemariku sibuk memasang
kedua buah sepatuku sembari aku mengamati setiap kejadian yang berlangsung di
sekelilingku. Tanpa sengaja aku mendengar sepenggal percakapan antara para
wanita dalam majelis pembacaan Quran yang sepertinya sedang mendiskusikan
bagaimana berdakwah dengan baik.
Desiran angin
membawa aroma hujan yang aku senangi, masih seperti biasa menurutku. Sungguh
mulia mereka yang tengah dalam majelis tadi. Namun, aku mendapati kondisi
kontras tepat di sekitaran masjid tempat majelis itu. Aku mendengar seorang
wanita, yang menurutku berusia beberapa tahun lebih muda dariku bersama satu
orang temannya. Penampilan mereka sangat modis
dan keren. Ternyata mereka tengah membahas kegalauan mereka.
Salah satu dari
mereka bertanya kepada yang lainnya, apakah sesungguhnya arti kata “akhwat” itu
dan apakah mereka bisa suatu saat nanti bisa menjadi “akhwat” seperti teman
mereka yang tengah bermajelis. Nampaknya mereka kebingungan, seolah mereka
hendak menuju jalan benar dengan taubat yang bersungguh-sungguh, tetapi mereka
ragu apakah mereka sanggup melaluinya dengan metamorfosis baru mereka. Dan aku
pun berlalu meninggalkan mereka dan percakapan inspiratif mereka.
Kaki aku ayunkan
kembali menuju rumah, mencoba memilih angkot mana yang nyaman untuk aku
tumpangi kali ini. Masih seperti biasanya, setelah menaiki angkot, mencari
posisi duduk ternyaman, headphone
terpasang rapi menutupi telingaku, mencoba menikmati rutinitas “macet” di kota
yang konon disebut sebagai kota seribu angkot. Playlist aku atur sedemikian rupa dan angin sore masuk melalui
jendela mobil yang terbuka lebar, menghindari pengap.
Lamunan di otak
ku bermain diantara neuron-neuron, mencoba me-refresh dua percakapan kontras di masjid tadi. Lalu aku bertanya
dalam hati, apakah iya yang disebut akhwat dan ukhti itu hanya mereka yang
sedang dalam majelis tadi? Yang berbusana “khas” ala perempuan arab? Berarti
aku pun bukan akhwat ataupun ukhti. Karena aku menggunakan baju kaos lengan
panjang yang dipadukan dengan jilbab model segitiga dan bawahan jeans. Tetapi bukankah akhwat dan ukhti
itu berarti perempuan? Ketidakpuasan menyeruak tiba-tiba, dan batin bersikeras
harus mendapat jawaban kegalauanku kali ini, pasti dapat, insya allah.
Sesampainya aku
di rumah, kubuka kamus arab-indonesia sembari jemariku mengetik pencarian makna
akhwat dan ukhti di internet. Belum lagi aku lepas pakaian yang aku kenakan
sepulang kampus, tahu-tahunya aku telah larut mencari jawabannya. Permainan
filosofi kembali menguasaiku.
Dari semua
sumber yang aku gunakan, kesemuanya menjawab arti dan makna kata akhwat dan
ukhti itu berarti sebutan untuk “perempuan” atau “wanita”. Namun, mengapa
kebanyakan dari mereka di luar sana menyebut akhwat dan ukhti itu hanya bagi
mereka yang berbusana “khas”, seolah kami yang “diluar kebiasaan” itu bukan
akhwat dan ukhti. Aku juga pernah berdialog dengan teman lelaki sekelasku, dia
melontarkan pernyataan jika dia ingin sekali menikahi seorang gadis akhwat.
Kemudian teman lelaki lainnya menimpali pernyataan teman tadi dengan sedikit
gurauan yang cukup menghentakkan hati. “Loh, bukannya memang kita sebagai
lelaki akan menikahi wanita, ikhwan akan menikahi akhwat, bukan lelaki dan
lelaki atau ikhwan dengan ikhwan. Itukan aneh yah..?”, cakap temanku. Batinku
tersenyum mendengarnya.
Ternyata pikiran
kita seringkali terlalu sempit mendefenisikan dan memaknai suatu kata bahkan
masalah sekalipun, yang malah membuat kita terlihat berakal dangkal. Mengapa
kita mengotak-kotakan kaum dengan pe-labelan yang diciptakan dari standar
manusia? Bukankah yang berhak menilai secara keseluruhan hanya ALLAH swt.
Sebagai manusia, tanpa disadari sering kita menyematkan label-label yang
menyudutkan atau membuat jarak manusia yang satu dengan yang lainnya semakin
melebar. Bukankah seharusnya sebutan “akhwat dan ukhti” itu untuk mengajak
mereka yang tersesat, kembali ke jalan ALLAH? Bukan malah makin mempertegas
jikalau mereka seolah tak pantas untuk berbuat yang lebih baik, seperti
perbincangan kedua gadis yang dalam hati kecilnya ingin mencicipi nikmatnya
menjadi akhwat dan ukhti sesungguhnya.
Pernah suatu
waktu aku berdialog dengan salah satu “Gus” yang tidak ingin disebut “Gus” dan
lebih nyaman disebut “abang” karena menghindari kekakuan saat berdiskusi, aku
menanyakan tentang cara berdakwah yang baik itu seperti apa, apakah harus
menggunakan pakaian serba ustadzah dulu baru ceramah? Dan jawaban sederhana terlontar
darinya, diikuti penjelasan yang cukup runtut, kurang lebih seperti ini:
Nhia, berdakwah itu harus disesuaikan. Tidak
harus kita berpakaian serba formal untuk berdakwah. Bukankah menyampaikan
walaupun satu ayat itu adalah termasuk bentuk dakwah sederhana. Jangan sampai
justru pakaian kita itu menjadi pagar besi pemisah antara kita dan orang yang
hendak kita ajak ke jalan ALLAH. ALLAH Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan Maha
Bijaksana. Jangan sampai justru pakaian kita menjadikan kita sombong dan lupa akan
niat awal kita untuk berdakwah. Jangan sampai pelabelan “akhwat dan ukhti” itu
menjadikan kita merasa benar sendiri dan di atas angin sampai lupa jika
masyarakat me-labeli kita agar kita menjadi panutan, bukan malah membuat mereka
yang berbusana “diluar dari kebiasaan” kita menjadi pesimis apakah pantas ia
kelak mendapat label ukhti dan akhwat tadi. Terkadang ada waktunya dakwah itu
melalui nyanyian, syair, tulisan, diskusi non-formal, pada saat mengajar dengan
menanamkan nilai-nilai islami pada mata pelajaran yang tengah di ajarkan,
pidato, ceramah, atau bahkan bentuk-bentuk kreatif lainnya. Selama masih dalam
koridor islami, berdakwa-lah sesuai apa yang menjadi kelebihan mu.
Berpikirlah
lebih luas dari langit, berperilakulah sederhana se-sederhana angin yang
berhembus dari mana saja dan kemana saja, dan berstrategi-lah seperti
kompleksnya alam.
At the end, I am akhwat..and every women is
akhwat.
Semoga kita
terangkum dalam kaum yang dirahmati ALLAH swt., amin.. ^_^
Gadisku,
adindaku..
Dia
Maha Melihat,
Jangan
runcingkan jarakmu yang betapa jauh dari-Nya
hanya
karena kau bukan akhwat.
Bukan..
Bukan
itu maksud ALLAH menghadirkan kosa kata dan akal pada tubuh.
Sesungguhnya
agar kalian berpikir dan kalian gunakan pada syiar mulia kalian.
Cukup
AKU yang menilai kalian!
Jangan
sekali-sekali ciptakan angka untuk mengukur yang diluar ranah jamahan kalian!
Jangan
pernah!
Karena
bisa jadi apa yang kalian lihat buruk adalah yang baik dan yang baik adalah
yang terburuk.
Tundukkanlah
kepala kalian!
Jangan
sampai kesombongan berada dalam setiap liter darah kalian.
Larut
bersama nutrisi yang seharusnya memuliakan kalian,
malah
menjadikan kalian tak lebih sebagai “sang pengotak” yang meregangkan ikatan
silaturrahim.
Adindaku,
Ulurkanlah
jilbabmu dan tutupi auratmu.
Bersama-sama
kita menuju surga.
Ingatlah,
Tak
akan kita dapati sesuatu jika kita tak pernah meminta.
Minta-lah
dan percayalah itu menyelamatkanmu kelak, dunia akhirat.
Adindaku,
Aku
masih menggenggam tanganmu.
Bersama
kita menuju surga, insya allah.
Ada kedudukan
khusus untuk kita yang harus kita tahu.
Dan
itu nyata!
Karena
kita akhwat.
Dramaga, 17 November 2013
Nhia Hammado

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks buat komentarx..:)