Senin, 06 Februari 2012

Cerpen Remaja



Chaca, Imajinerku
Jika ada sosok yang membuatku dapat bertahan tegar seperti saat ini, dialah orangnya. Sederhana menggambarkannya, manis, periang, polos, dan selalu saja ada untukku kapan pun dan dimana pun. Setiap kali aku mengatakan aku tak bisa, maka Ia dengan lantangnya mengatakan “tidak, kamu bisa!”. Itulah yang paling aku senangi dari dirinya. Ia selalu bisa membuatku yakin jika tak ada yang tak mungkin di dunia ini kecuali aku yang membuatnya menjadi tidak mungkin. Bahkan disaat aku jatuh di lumping terdalam kesendirianku, dia selalu ada untukku. Bukan sosok lelaki yang tengah aku jabarkan, namun sosok gadis inspiratif dan yang kan selalu membuatku nyaman berlama-lama dengannya. Dia teman baikku. Aku sudah kenal lama dengan dirinya. Namun, aku baru akrab di saat usiaku beranjak remaja. Dahulu, kupikir Ia sosok egois yang selalu mengahalangi cita-citaku dan memojokan diriku kala aku melakukan sebuah kesalahan. Perlahan, Ia merangkulku dengan cara ternyaman dan membuatku rela menjadi sahabat selamanya dengan dirinya.
            Dentang jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Tuhan, aku terlambat lagi jika tak bisa menyelesaikan tumpukan laporan ini. Mana sebentar ada praktikum yang persyaratannya adalah laporan utuh dari percobaan minggu lalu.
            “Cha, gue mau bolos ajha” lirihku pada sahabatku.
            “Yah..loe man baru juga laporan segitu ajha dah nyerah” balas Chaca.
            “Loe sih enak Cha, duduk tenang kagak pusing. Nah gue,berjibaku mengabdikan hidup pada percobaan” kesal ku menimpali jawaban Chaca. Dan Chaca berlalu dari hadapanku meninggalkanku dengan tumpukan laporan-laporan itu. ‘
            Tidak satu dua kali kejadian itu tercatat dalam lembar hidupku. Dan Chaca pun lekat dengan semua semburat-semburat pedisnya yang entah tujuannya menyemangatiku atau hanya semakin membuatku mundur. Itulah Chaca, dia selalu tahu bagaimana cara membuatku tidak menyerah pada keadaan dan nasib. Meskipun terkesan cuek dan tidak perduli, tapi itulah sesungguhnya cara terampuh untuk membuatku bangkit kembali. Chaca selalu punya trik dan cara khusus membuatku menjadi “teremehkan”, karena dengan begitu maka aku akan selalu berusaha berdiri kembali dan membuktikan semua itu tak benar. Aku tipikal gadis yang tak suka ditantang, diremehkan, dan dicemooh. Walaupun sebenarnya aku hidup dengan situasi seperti itu. Gambaran kasarnya hidup bersama cacian untuk menjadi jauh lebih baik.
            Hari ini, entah mengapa aku merindukan Chaca, seharian ia tak muncul mengganggu aktivitasku. Biasanya jam segini dia sudah curhat mati-matian bersama diriku. Kadang kala aku juga melupakan keberadaan Chaca, itu yang membuatnya seringkali marah dan ngambek tak ingin bertemu denganku. Asik hidup dengan sahabat seperti Chaca, tidak membuatku kurang akan teman. Justru Chaca selalu menginspirasiku untuk bisa menjadi mahluk sosialis. Mereka orang-orang yang mau berbagi, walaupun sederhana-sebentuk senyuman tulus. Akan tetapi, hari aku hanya ingin berbagi dengan Chaca tentang apa yang aku rasakan seharian ini. Aku mulai risau, jangan-jangan Chaca berpikir aku tak lagi membutuhkannya dan enggan untuk hadir kembali menemaniku.
            Mataku tak kunjung dapat terpejam. Pikiranku masih terfokus pada Chaca. Dimana dirinya sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Betulkah dia telah meninggalkanku? Tiba-tiba suara Chaca terdengar.
Sampai kapan pun kau tetap teman terbaikku.
Aku selalu ada kapan pun kau membutuhkanku.
Aku tak pernah marah padamu.
Justru aku yang seharusnya berterimakasih padamu.
Kau telah mengizinkanku menemani tiap harimu.
Kau teman yang istimewa, gadis yang tangguh.
Oh, iya akan aku ceritakan sesuatu padamu.
Mungkin kau berpikir aku selalu mudah bicara, tanpa perduli bagaimana perasaanmu.
Tahukah kau, aku tengah mengemban tugas berat dari Tuhan untuk menjagamu, menemanimu, dan senantiasa menyemangatimu.
Hanya saja aku tidak ingin membuatmu resah dengan tugas yang aku emban.
Sekarang kau mengerti, mengapa senyuman mu berharga untukku?
Karena, itulah jawaban tugasku.
Sama halnya saat kau sibuk mengutak-atik buku lapuk mu untuk kebutuhan laporanmu.
Sama juga diriku yang sibuk memutar pikiranku untuk mencari cara membuatmu tersenyum. Dan aku akan mendapatkan nilai A saat aku mampu melakukannya.
Sungguh aku berterima kasih, karena kau selalu membuatku mendapatkan A untuk setiap senyuman yang kau berikan. Walaupun aku tahu agak berat melakukannya untukku.
Terima kasih untuk menghadirkanku dalam imajiner mu.
Walaupun aku hanya teman hayalanmu.

Berat rasanya melepas Chaca. Kini usiaku menginjak 25 tahun. Pantas saja Chaca ikhlas melepasku hari ini. Hari ini adalah hari bahagiaku. Aku dipersunting oleh lelaki pilihanku. Sinar mata yang teduh dan keputusan-keputusan bijaknya dihadirkan Tuhan untuk menjawab keraguanku akan kesendirianku selama ini. Terima kasih Tuhan. Terima Kasih Chaca, sampai kapan pun kau kan tetap selalu ada dalam benakku.
***
Dear Chaca teman terbaikku.
Terima kasih telah menemani masa remajaku. Aku berharap aku bisa menjadi teman terbaik untuk anakku kelak. Seperti kau menjadi sahabatku selama ini. Sering-seringlah kunjungi aku ya! Aku akan sangat merindukanmu.
Lovely

Ur Best Friend

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks buat komentarx..:)