Minggu, 04 November 2012

LOVE IN MY CHAIR (CINTA DI KURSIKU)


Bising, bau, dan,…, entahlah namanya saja auditorium atau sebut saja aula. Tempat terbesar yang memungkinkan memuat ratusan mahasiswa. Berkibar almamater kampus yang senada dalam ruangan itu. Seluruhnya larut dalam euphoria kesatuan atas nama universitas, walaupun mereka datang dari berbagai fakultas, jurusan bahkan suku. Mereka yang mungkin saja masih terkotak-kotak atas dasar suku dan visi pribadi mereka, tapi faktanya mereka sekarang ada pada satu ruangan untuk mengikuti program “pembekalan”. Kegiatan yang menarik pra-KKN, salah satu kurikulum tingkat universitas dimana mengharuskan mahasiswa terjun langsung di lapangan untuk mengabdi pada rakyat mencari pengalaman, alih-alih jadi babu di desa terpencil kata mahasiswa yang telah melaluinya. KKN sendiri diperuntukkan bagi mereka yang sudah pada tingkatan tinggi, atau setidaknya telah melulusi tiga per empat jumlah kredit kurikulum jurusan mereka – yang populer disebut SKS (Sistem Kredit Semester). Konon katanya, KKN bisa mengubah seorang pribadi menjadi sosok berbeda. Kadang pula hal yang tidak mungkin berubah menjadi mungkin. Misteri KKN.
     Telat hingga setengah jam lamanya, entah masih bisa tertoleransi atau tidak, yang pasti Nhaya cukup gamang memikirkannya. Dengan sedikit canggung Nhaya melangkah perlahan di antara deretan mahasiswa yang sebentar lagi menjadi kawan barunya selama kurang lebih dua bulan dengan judul kegiatan KKN di sebuah tempat yang Ia ketahui cukup jauh dari daerah asalnya sekarang. Tak seorang pun Ia kenal, mungkin ada hanya saja Ia terlalu gugup dan lelah mengingat keterlambatannya yang abnormal. Melirik kesana kemari, nihil. Tak ada kursi yang bisa Ia duduki, dan tak ada orang yang Ia kenal untuk sekedar Ia mintai keikhlasan berbagi kursi. Jilbab merah muda dipadu kemeja dengan warna senada dan rok jins pucat sepucat wajahnya yang kelelahan saat harus menahan pegalnya kaki berdiri memantau berlangsungnya pembekalan pra-KKN.
     “Tuhan, semoga ada orang baik hati yang mau memberikan kursinya padaku” bisik Nhaya dalam hati.
     Selang beberapa menit Nhaya meng-amin-kan doanya dalam hati, tak sengaja Ia mendapati sebuah kursi yang disorong ke arahnya. Bersyukur tentunya, namun rasa gengsinya yang luar biasa membuatnya enggan berbalik untuk melihat siapakah gerangan orang yang baik hati tersebut. Begitulah jika rasa ego teramat sangat yang merajai batin seseorang, hasilnya adalah sebuah penyesalan. Penyesalan karena tak sempat mengucapkan “terima kasih” atau bahkan hanya sekedar melempar senyum kepada sosok tadi.
     “Entar aku cari, siapa orangnya. Toh, ntar se-Kecamatan juga selama dua bulan. Mudah-mudahan aja se-Posko” Nhaya membatin.
     Nhaya duduk menikmati “kursi anugerah” yang baru saja Ia menangkan dari pengaduannya pada Yang Di Atas. Sebenarnya, Ia pun penasaran siapa gerangan orang baik itu. Tapi terlambat, Ia pun tak bisa lagi mengenali orang tersebut. Yang dia tahu yang memberinya adalah seorang lelaki. Ciri-cirinya tak Ia tahu, karena egonya juga sih.
     Selang waktu yang berlalu, tiba saatnya Ia memulai petualangan barunya di kota baru yang belum pernah Ia kunjungi sebelumnya. Dan yang paling menghebohkan untuknya adalah Ia tidak mengerti bahasa tradisional masyarakat di kota tersebut. Jadilah Ia gagu selama dua bulan (hehehe..). subuh hari telah Ia tenteng ransel dan beberapa kantongan bekal dirinya selama dua bulan. Berbekal restu, doa, dan ridho mama dan bapaknya (begitu Nhaya memanggil kedua orangtuanya), Nhaya siap lahir dan batin. Walaupun sesungguhnya Ia baru saja patah hati karena ulah Kak Dechan yang menurutnya tidak dapat lagi ditolerir. Mengenai patah hati Nhaya, KKN sebenarnya menjadi satu alasan untuk Nhaya move-on dari perihnya cerita cinta yang Ia alami. Walaupun bukan menjadi ajang mencari jodoh, tapi ajang have fun dengan teman-teman baru. Berharap Ia tidak perlu lagi merasakan sakit yang luar biasa setelah menjalin hubungan selama satu setengah tahun lamanya.
     Bus luar kota hendak mengantar rombongan mahasiswa telah stand by sejak pagi buta. Menginjakkan kaki di lapangan depan auditorium-tempat berlangsungnya pembekalan beberapa hari lalu-ditemani saudaranya yang menemani Ia hingga detik-detik pemberangkatan. Diawali dengan absensi dari dosen pembimbing untuk mengecek siapa saja yang siap berangkat dengan bus ataupun yang naik kendaraan beroda dua. Kegiatan awal itu juga dimanfaatkan para mahasiswa untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi, Nhaya nampaknya mencari-cari seseorang. Ia masih mencari sosok pria yang memberikannya kursi saat pembekalan. Diam-diam Ia jatuh hati pada kebaikan lelaki itu. Namun, Nhaya menepisnya dan berdalih jika Ia tak mungkin dan tak boleh jatuh cinta pada pria manapun hingga Ia yakin lelaki itu tak akan menyakiti hatinya. Akan tetapi, Ia tak kunjung menemukan sosok lelaki misterius itu. Akhirnya, Ia menutup kasus pencarian lelaki tersebut.
     KKN berlalu sudah beberapa minggu. Waktu demi waktu Ia lalui bersama orang-orang baru yang sehidup dengannya dalam jangka waktu beberapa hari kedepan, Ia sebut mereka new family. Nhaya juga salut dengan solidaritas keluarga baru mereka. Ia bersyukur dan bangga memiliki mereka. Semangat baru untuk melupakan Kak Dechan. Menyadari kekosongan hatinya, seorang diantara saudara barunya di lokasi menawarkan sebuah hati untuk menemani hari-hari barunya. Sebuah kesalahan nampaknya, karena Nhaya tahu betul Ia sedang tak ingin mengisi hati dan terlebih lagi Ia tengah penasaran dengan sosok lelaki yang dicarinya selama ini. Kekagumannya terhadap pria yang ditawarkan temannya tersebut disalahartikan sebagai sebuah rasa “suka”. Terparah, pria itu menganggap rasa itu sebagai “cinta”.
     Berjalan beriring dengan pria itu dalam status “berpacaran”, membuat Nhaya mengerti ada yang kosong dalam hubungan mereka. Ketidakmampuannya mengatakan “tidak” pada pria itu membuatnya bertahan pada hubungan yang tak sehat. Apalagi Ia dan pria itu tak sepaham dan sealur pikiran. Dan sebuah kenyataan pun menghampirinya. Pria itu mengatakan jika bukan hanya dia yang suka pada Nhaya, tapi ada pria lain yang tak ingin Ia jadikan rivalnya. Tepatnya, pria lain itu se-posko dengan pasangan Nhaya. Betapa kagetnya Nhaya mengetahui fakta mengejutkan tersebut, karena setahunya pria lain itu tengah menjalin kasih dengan wanita yang dihargainya sebagai seorang saudari.
     Diawal ketahuan Nhaya akan kenyataan tersebut, Ia tidak begitu tertarik. Hingga suatu saat Ia pun terlibat pada sebuah kepanitiaan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Ia pun harus terlibat langsung dengan pria yang disebut-sebut sang kekasih sebagai rivalnya dalam hal mengagumi Nhaya. Entah mengapa, semakin Ia melihat sang pria dengan wanitanya berdua, semakin Ia terbakar amarah. Tentu saja Ia menyembunyikan rasa yang Ia kenali sebagai “cemburu” agar tak membuatnya malu. Ego yang tinggi membuatnya semakin lihai menyembunyikan cemburunya. Dan detik-detik menghantam pun tiba. Nhaya semakin kaget dengan pernyataan Kak Kiki-salah satu teman KKN Nhaya- yang menjelaskan jika semua yang dikatakan pasangan Nhaya adalah benar adanya. Tapi, tidak ada tanda-tanda dari pria tersebut sebagai pembenaran keinginannya terhadap Nhaya. Lagian, mungkin Nhaya yang terlalu “Ge-eR” mengenai isu yang beredar. Lalu, Nhaya pun menutup lagi kasus Ia dan pria lain tersebut. Begitu pula tertutupnya kisah Ia dan pasangannya.
     Berminggu-minggu telah berlalu pasca KKN. Tiba-tiba Nhaya terusik dengan satu nama yang sempat membuatnya galau, Mochi. Nama pria lain yang menjadi rival mantan pasangan Nhaya saat KKN dulu. Tak kuasa jemari gempalnya pun merangkai kata pesan singkat yang Ia kirimkan untuk Kak Mochi. Pucuk dicinta ulam pun tiba, pesan singkatnya berbalas berujung pada pertemuan pertamanya dengan Kak Mochi pasca KKN. Bertempatkan di kediaman Nhaya, pria lain itu pun menyempatkan diri untuk bertandang sebentar. Entah dari mana keberanian muncul pada diri Nhaya. Dengan ragu Ia menanyakan kebenaran isu yang terendus olehnya mengenai kekaguman Mochi pada Nhaya. Mochi tak menyangkal, malahan statemen berikutnya yang terlontar dari mulut Mochi membuat Nhaya hampir tidak bisa menguasai dirinya. Mochi adalah lelaki misterius yang dicarinya selama ini, yang ikhlas memberikan kursi disaat Nhaya tengah putus asa saat pembekalan. Bagaimana mungkin semua ini terjadi? Namun, yang paling menyakitkan adalah saat Mochi menginginkan agar Nhaya membiarkan perasaannya menguap dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
     “Oh Tuhan, apa arti semua ini? Setelah perjuangan melelahkan melupakan kak Dechan, kini aku harus berusaha melupakan lelaki misteriusku yang pelan-pelan sudah aku sayangi walaupun samar-samar wujudnya dalam pikiranku?” desah Nhaya dalam lamunannya.
     Sulit memang menerima kenyataan. Tapi itulah yang harus Nhaya pahami dari takdir yang tersurat untuknya. Sabar..akan datang seseorang yang tepat.
     Tepat setahun KKN berlalu. Tepat setahun sudah Nhaya diam-diam tetap menumbuhkan perasaannya pada lelaki misteriusnya. Berharap suatu saat takdir baik berpihak padanya. Tanpa disadarinya jika Ia masih saja menyakiti orang-orang yang sayang padanya. Lima bulan sudah Ia menjalani hubungan dengan seseorang yang Ia kenal dari kekasih sahabatnya. Selama itu pula sesungguhnya rasanya masih menyediakan tempat tersendiri untuk lelaki misteriusnya. Tetapi kini Ia sadar, Ia harus kembali bersahabat dengan kenyataan. Toh, dulu Ia mampu berdiri setelah badai besar menghantamnya. Sekarang kekuatannya untuk kembali pada kenyataan terpanggil kembali. Kenyataan bahwa, MOCHI ADALAH MASA LALU. SEKARANG YANG IA MILIKI ADALAH MIMPINYA. KALAU PUN ADA JALAN BERSAMA MOCHI, TUGASNYA SEKARANG ADALAH MEMBAHAGIAKAN APA YANG DIMILIKINYA SEKARANG. KARENA IA TAHU BAGAIMANA SAKITNYA TAK TERANGGAP. DAN SATU HAL, CITA-CITANYA HARUS TETAP TERCAPAI. CUKUPLAH ALASAN UNTUK KEMBALI SEPERTI SAAT SEBELUM MENGENAL MOCHI.

KADANG LEBIH BAIK UNTUK TIDAK MENGETAHUI KENYATAAN. JIKA MEMANG SETELAH KENYATAAN ITU AKAN DATANG KEPEDIHAN. SEPERTI PEDIHNYA AKU YANG BERJUANG MENIADAKAN RASA YANG PERNAH ADA UNTUKMU. KENYATAAN JIKA KAU PERNAH (WALAUPUN HANYA SEKEDAR KAGUM) ADA UNTUKKU, DAN KENYATAAN JIKA KAU-LAH LELAKI MISTERIUS ITU, MALAIKAT KURSIKU.
Penarikan KKN 23 AGUSTUS 2011, Kado untuk ku yang tak terjamah.
NURUL ICHSANIA HAMMADO, S.Pd

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks buat komentarx..:)