Bising, bau, dan,…, entahlah namanya saja
auditorium atau sebut saja aula. Tempat terbesar yang memungkinkan memuat
ratusan mahasiswa. Berkibar almamater kampus yang senada dalam ruangan itu.
Seluruhnya larut dalam euphoria kesatuan atas nama universitas, walaupun mereka
datang dari berbagai fakultas, jurusan bahkan suku. Mereka yang mungkin saja
masih terkotak-kotak atas dasar suku dan visi pribadi mereka, tapi faktanya
mereka sekarang ada pada satu ruangan untuk mengikuti program “pembekalan”.
Kegiatan yang menarik pra-KKN, salah satu kurikulum tingkat universitas dimana
mengharuskan mahasiswa terjun langsung di lapangan untuk mengabdi pada rakyat
mencari pengalaman, alih-alih jadi babu di desa terpencil kata mahasiswa yang
telah melaluinya. KKN sendiri diperuntukkan bagi mereka yang sudah pada
tingkatan tinggi, atau setidaknya telah melulusi tiga per empat jumlah kredit
kurikulum jurusan mereka – yang populer disebut SKS (Sistem Kredit Semester).
Konon katanya, KKN bisa mengubah seorang pribadi menjadi sosok berbeda. Kadang
pula hal yang tidak mungkin berubah menjadi mungkin. Misteri KKN.
Telat hingga
setengah jam lamanya, entah masih bisa tertoleransi atau tidak, yang pasti
Nhaya cukup gamang memikirkannya. Dengan sedikit canggung Nhaya melangkah
perlahan di antara deretan mahasiswa yang sebentar lagi menjadi kawan barunya
selama kurang lebih dua bulan dengan judul kegiatan KKN di sebuah tempat yang
Ia ketahui cukup jauh dari daerah asalnya sekarang. Tak seorang pun Ia kenal,
mungkin ada hanya saja Ia terlalu gugup dan lelah mengingat keterlambatannya
yang abnormal. Melirik kesana kemari, nihil. Tak ada kursi yang bisa Ia duduki,
dan tak ada orang yang Ia kenal untuk sekedar Ia mintai keikhlasan berbagi
kursi. Jilbab merah muda dipadu kemeja dengan warna senada dan rok jins pucat
sepucat wajahnya yang kelelahan saat harus menahan pegalnya kaki berdiri
memantau berlangsungnya pembekalan pra-KKN.
“Tuhan, semoga ada
orang baik hati yang mau memberikan kursinya padaku” bisik Nhaya dalam hati.
Selang beberapa
menit Nhaya meng-amin-kan doanya dalam hati, tak sengaja Ia mendapati sebuah
kursi yang disorong ke arahnya. Bersyukur tentunya, namun rasa gengsinya yang
luar biasa membuatnya enggan berbalik untuk melihat siapakah gerangan orang
yang baik hati tersebut. Begitulah jika rasa ego teramat sangat yang merajai
batin seseorang, hasilnya adalah sebuah penyesalan. Penyesalan karena tak
sempat mengucapkan “terima kasih” atau bahkan hanya sekedar melempar senyum
kepada sosok tadi.
“Entar aku cari,
siapa orangnya. Toh, ntar se-Kecamatan juga selama dua bulan. Mudah-mudahan aja
se-Posko” Nhaya membatin.
Nhaya duduk
menikmati “kursi anugerah” yang baru saja Ia menangkan dari pengaduannya pada
Yang Di Atas. Sebenarnya, Ia pun penasaran siapa gerangan orang baik itu. Tapi
terlambat, Ia pun tak bisa lagi mengenali orang tersebut. Yang dia tahu yang
memberinya adalah seorang lelaki. Ciri-cirinya tak Ia tahu, karena egonya juga
sih.
Selang waktu yang
berlalu, tiba saatnya Ia memulai petualangan barunya di kota baru yang belum
pernah Ia kunjungi sebelumnya. Dan yang paling menghebohkan untuknya adalah Ia
tidak mengerti bahasa tradisional masyarakat di kota tersebut. Jadilah Ia gagu
selama dua bulan (hehehe..). subuh hari telah Ia tenteng ransel dan beberapa
kantongan bekal dirinya selama dua bulan. Berbekal restu, doa, dan ridho mama
dan bapaknya (begitu Nhaya memanggil kedua orangtuanya), Nhaya siap lahir dan
batin. Walaupun sesungguhnya Ia baru saja patah hati karena ulah Kak Dechan
yang menurutnya tidak dapat lagi ditolerir. Mengenai patah hati Nhaya, KKN
sebenarnya menjadi satu alasan untuk Nhaya move-on
dari perihnya cerita cinta yang Ia alami. Walaupun bukan menjadi ajang mencari
jodoh, tapi ajang have fun dengan
teman-teman baru. Berharap Ia tidak perlu lagi merasakan sakit yang luar biasa
setelah menjalin hubungan selama satu setengah tahun lamanya.
Bus luar kota
hendak mengantar rombongan mahasiswa telah stand
by sejak pagi buta. Menginjakkan kaki di lapangan depan auditorium-tempat
berlangsungnya pembekalan beberapa hari lalu-ditemani saudaranya yang menemani
Ia hingga detik-detik pemberangkatan. Diawali dengan absensi dari dosen
pembimbing untuk mengecek siapa saja yang siap berangkat dengan bus ataupun
yang naik kendaraan beroda dua. Kegiatan awal itu juga dimanfaatkan para
mahasiswa untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi, Nhaya nampaknya
mencari-cari seseorang. Ia masih mencari sosok pria yang memberikannya kursi
saat pembekalan. Diam-diam Ia jatuh hati pada kebaikan lelaki itu. Namun, Nhaya
menepisnya dan berdalih jika Ia tak mungkin dan tak boleh jatuh cinta pada pria
manapun hingga Ia yakin lelaki itu tak akan menyakiti hatinya. Akan tetapi, Ia
tak kunjung menemukan sosok lelaki misterius itu. Akhirnya, Ia menutup kasus
pencarian lelaki tersebut.
KKN berlalu sudah
beberapa minggu. Waktu demi waktu Ia lalui bersama orang-orang baru yang
sehidup dengannya dalam jangka waktu beberapa hari kedepan, Ia sebut mereka new family. Nhaya juga salut dengan
solidaritas keluarga baru mereka. Ia bersyukur dan bangga memiliki mereka.
Semangat baru untuk melupakan Kak Dechan. Menyadari kekosongan hatinya, seorang
diantara saudara barunya di lokasi menawarkan sebuah hati untuk menemani
hari-hari barunya. Sebuah kesalahan nampaknya, karena Nhaya tahu betul Ia
sedang tak ingin mengisi hati dan terlebih lagi Ia tengah penasaran dengan
sosok lelaki yang dicarinya selama ini. Kekagumannya terhadap pria yang
ditawarkan temannya tersebut disalahartikan sebagai sebuah rasa “suka”.
Terparah, pria itu menganggap rasa itu sebagai “cinta”.
Berjalan beriring
dengan pria itu dalam status “berpacaran”, membuat Nhaya mengerti ada yang
kosong dalam hubungan mereka. Ketidakmampuannya mengatakan “tidak” pada pria
itu membuatnya bertahan pada hubungan yang tak sehat. Apalagi Ia dan pria itu
tak sepaham dan sealur pikiran. Dan sebuah kenyataan pun menghampirinya. Pria
itu mengatakan jika bukan hanya dia yang suka pada Nhaya, tapi ada pria lain
yang tak ingin Ia jadikan rivalnya. Tepatnya, pria lain itu se-posko dengan
pasangan Nhaya. Betapa kagetnya Nhaya mengetahui fakta mengejutkan tersebut,
karena setahunya pria lain itu tengah menjalin kasih dengan wanita yang
dihargainya sebagai seorang saudari.
Diawal ketahuan
Nhaya akan kenyataan tersebut, Ia tidak begitu tertarik. Hingga suatu saat Ia
pun terlibat pada sebuah kepanitiaan dalam rangka menyambut bulan suci
Ramadhan. Ia pun harus terlibat langsung dengan pria yang disebut-sebut sang
kekasih sebagai rivalnya dalam hal mengagumi Nhaya. Entah mengapa, semakin Ia
melihat sang pria dengan wanitanya berdua, semakin Ia terbakar amarah. Tentu
saja Ia menyembunyikan rasa yang Ia kenali sebagai “cemburu” agar tak
membuatnya malu. Ego yang tinggi membuatnya semakin lihai menyembunyikan
cemburunya. Dan detik-detik menghantam pun tiba. Nhaya semakin kaget dengan
pernyataan Kak Kiki-salah satu teman KKN Nhaya- yang menjelaskan jika semua
yang dikatakan pasangan Nhaya adalah benar adanya. Tapi, tidak ada tanda-tanda
dari pria tersebut sebagai pembenaran keinginannya terhadap Nhaya. Lagian,
mungkin Nhaya yang terlalu “Ge-eR” mengenai isu yang beredar. Lalu, Nhaya pun
menutup lagi kasus Ia dan pria lain tersebut. Begitu pula tertutupnya kisah Ia
dan pasangannya.
Berminggu-minggu
telah berlalu pasca KKN. Tiba-tiba Nhaya terusik dengan satu nama yang sempat
membuatnya galau, Mochi. Nama pria lain yang menjadi rival mantan pasangan
Nhaya saat KKN dulu. Tak kuasa jemari gempalnya pun merangkai kata pesan
singkat yang Ia kirimkan untuk Kak Mochi. Pucuk dicinta ulam pun tiba, pesan
singkatnya berbalas berujung pada pertemuan pertamanya dengan Kak Mochi pasca
KKN. Bertempatkan di kediaman Nhaya, pria lain itu pun menyempatkan diri untuk
bertandang sebentar. Entah dari mana keberanian muncul pada diri Nhaya. Dengan
ragu Ia menanyakan kebenaran isu yang terendus olehnya mengenai kekaguman Mochi
pada Nhaya. Mochi tak menyangkal, malahan statemen berikutnya yang terlontar
dari mulut Mochi membuat Nhaya hampir tidak bisa menguasai dirinya. Mochi
adalah lelaki misterius yang dicarinya selama ini, yang ikhlas memberikan kursi
disaat Nhaya tengah putus asa saat pembekalan. Bagaimana mungkin semua ini
terjadi? Namun, yang paling menyakitkan adalah saat Mochi menginginkan agar
Nhaya membiarkan perasaannya menguap dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Oh Tuhan, apa arti
semua ini? Setelah perjuangan melelahkan melupakan kak Dechan, kini aku harus
berusaha melupakan lelaki misteriusku yang pelan-pelan sudah aku sayangi
walaupun samar-samar wujudnya dalam pikiranku?” desah Nhaya dalam lamunannya.
Sulit memang
menerima kenyataan. Tapi itulah yang harus Nhaya pahami dari takdir yang
tersurat untuknya. Sabar..akan datang seseorang yang tepat.
Tepat setahun KKN
berlalu. Tepat setahun sudah Nhaya diam-diam tetap menumbuhkan perasaannya pada
lelaki misteriusnya. Berharap suatu saat takdir baik berpihak padanya. Tanpa disadarinya
jika Ia masih saja menyakiti orang-orang yang sayang padanya. Lima bulan sudah
Ia menjalani hubungan dengan seseorang yang Ia kenal dari kekasih sahabatnya.
Selama itu pula sesungguhnya rasanya masih menyediakan tempat tersendiri untuk
lelaki misteriusnya. Tetapi kini Ia sadar, Ia harus kembali bersahabat dengan
kenyataan. Toh, dulu Ia mampu berdiri setelah badai besar menghantamnya.
Sekarang kekuatannya untuk kembali pada kenyataan terpanggil kembali. Kenyataan
bahwa, MOCHI ADALAH MASA LALU. SEKARANG YANG IA MILIKI ADALAH MIMPINYA. KALAU
PUN ADA JALAN BERSAMA MOCHI, TUGASNYA SEKARANG ADALAH MEMBAHAGIAKAN APA YANG
DIMILIKINYA SEKARANG. KARENA IA TAHU BAGAIMANA SAKITNYA TAK TERANGGAP. DAN SATU
HAL, CITA-CITANYA HARUS TETAP TERCAPAI. CUKUPLAH ALASAN UNTUK KEMBALI SEPERTI
SAAT SEBELUM MENGENAL MOCHI.
KADANG LEBIH BAIK UNTUK TIDAK MENGETAHUI KENYATAAN. JIKA MEMANG
SETELAH KENYATAAN ITU AKAN DATANG KEPEDIHAN. SEPERTI PEDIHNYA AKU YANG BERJUANG
MENIADAKAN RASA YANG PERNAH ADA UNTUKMU. KENYATAAN JIKA KAU PERNAH (WALAUPUN
HANYA SEKEDAR KAGUM) ADA UNTUKKU, DAN KENYATAAN JIKA KAU-LAH LELAKI MISTERIUS
ITU, MALAIKAT KURSIKU.
Penarikan KKN 23 AGUSTUS 2011, Kado untuk ku yang tak terjamah.
NURUL ICHSANIA HAMMADO, S.Pd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks buat komentarx..:)