Sabtu, 27 Juli 2013

Opera Sabun [2]

Aku berlindung dari godaan syaitan yang terkutuk.
Dengan menyebut nama ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ampunilah kam dari segala dosa yang menyelimuti kehidupan kami.
Sejak lembaran awal cerita hidup kami hingga saat kami akan menutup buku kehidupan.
Ya Rabbi,
Tidak ada keraguan atas setiap scenario-Mu, termasuk opera yang Kau pertontonkan kali ini.
Jauh lebih menguras batin dan pikiran.
Hanya air mata yang mampu berbicara ketika aku menyaksikan teatrikal hidup karya-Mu.
Ada penganiayaan dan kesakitan pada setiap scene yang dihadirkan.
Bahkan ada yang hanya tersirat,
Tidak terucap.
Namun sakitnya luar biasa.
Alur ceritanya menceritakan anak adam yang hendak membeli semua dengan uang.
Termasuk membeli kebahagiaan.
Apa kau lupa atau berpura-pura lupa, Bung!
Materi menjanjikan segalanya, namun segalanya tak dapat dibeli dengan uang.
Untuk apa kau hartawan jika engkau memotong hak yang seharusnya keluargamu makan.
Untuk apa kau bergelimang materi jika engkau masih kekurangan moral.
Untuk apa kau punya segalanya tetapi nyatanya kau kehilangan satu tiang sakral,
Cinta!
Di opera sebelumnya, engkau telah aku saksikan merana karena tak beroleh hati sang aktris.
Kini di operamu yang syahdu, kau kembali kehilangan akal sehat karena nafsu dan ambisi!
Aku tak lagi dapat tertawa menyaksikan opera ini.
Kini aku banyak menangis, meringis kasihan pada apa yang dipertontonkan.
Berilmu namun tak berhati.
Seolah ingin menjalankan sunnah dan menjadi ahli ibadah, kemudian mengesampingkan kepentingan menjadi ahli ilmu…
Bahagia tidak murah coy.. [jika kamu memang berniat membelinya].
Di dunia fana memang kau punya apa yang kamu mau.
Tapi, sesaat itu pula kau harus menghitung berapa tapak lagi kau akan beroleh balasan.
Ingat, siapa yang menanam akan memanen apa yang ditanamnya.

Di episode berikutnya,
Kau korbankan sumber kebahagiaanmu.
Kau korbankan rahmat dan anugerah milikmu.
Mereka tidak mampu menghantam kerasnya lakonmu,
Tapi diam-diam ada doa dari lisan mereka.
Itu yang kau lupakan, Bung!

Ingat,
Kembali aku selalu ingatkan.
Adzab dan balasan itu nyata.
Hanya saja persoalan waktu!
Jika semakin banyak kerusakan yang kau timbulkan,
Semakin kau percepat langkah balasan itu menujumu!
Naudzubillah..

Ku raih sapu tangan dari saku ku.
Ku seka air mata itu.
Sambil berdoa,
Agar yang hak menjadi benar dan yang bathil menjadi debu.
Amin.

(Mungkin dulu aku penonton, sekarang pun aku masih penonton. Namun kali ini, aku penonton yang akan selalu berbisik pada SANG SUTRADARA: Hakimi sesuai alur cerita yang Kau inginkan! Kami hanya berserah pada-Mu, Sang Sutradara).

Nhia Hammado
with aLL pain.

280713

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks buat komentarx..:)