Ada yang terlahir sebagai yang terkuat.
Ada yang terlahir sebagai yang paling rupawan.
Ada yang terlahir sebagai yang paling cerdas.
Ada yang terlahir sebagai yang paling egois.
Ada yang terlahir sebagai yang paling kejam.
Ada yang terlahir sebagai yang paling periang.
Ada yang terlahir sebagai yang paling bijaksana.
Ada yang terlahir sebagai yang merasa paling beruntung.
Ada yang terlahir sebagai yang merasa maha tahu.
Ada yang terlahir sebagai yang merasa paling merana dan menderita.
Tidak peduli engkau menjadi yang ter-apa-pun, setidaknya ada dalam satu
detik dalam hidupmu engkau ingin menyebrangi peran orang lain.
Yang rupawan tetiba berkeinginan menjadi yang terburuk rupanya.
Yang buruk rupa memuja-muji sang rupawan dan kebingungan mengapa rupawan
ingin berada di posisinya.
Namun, tahukah kalian..sekali saja kalian memejamkan mata dan kemudian
mengalirkan air mata yang paling tulus sembari berkata “Wahai Tuhanku, aku
bukan apa pun tanpa-Mu. Aku hanya se-tetes dari limpahan keagungan-Mu. Lantas,
aku dan air mata yang mengalir dari kedua mataku semoga adalah air yang
mengalir dari hatiku pula. Aku persembahkan segenap jiwa dan ragaku untuk
menyembah-Mu”, maka kesejukan baru akan terasa.
Masalah yang menggunung,
kepenatan yang merantai,
kegundahan yang memeluk,
rasa cemas yang menudungi,
penolakan yang bertubi-tubi,
kelelahan tak terperi,
hingga kesedihan yang bagai tak temu ujungnya,
seketika terbang bersama angin.
Engkau tidak pernah benar-benar sendiri!
Ada angin yang menyapu air matamu.
Ada bebungaan yang ingin melihatmu ceria kembali.
Ada langit biru yang begitu luas yang tak jemu menanti bahagiamu.
Ada hamparan hijau tetumbuhan yang menyugukan perdamaian.
Dan mungkin ada seseorang yang ingin engkau tetap eksis demi
kelangsungan hidupnya,
kita tidak pernah benar-benar tahu apakah kita benar-benar sendiri.
Di akhirnya,
aku pun berharap, semoga aku tidak pernah benar-benar ingin menjadi
orang lain.
Bisa saja orang-orang berpikir aku lemah, rapuh, dan tidak bisa
diandalkan.
Itu pikiran mereka, biarkanlah..selama Tuhan belum berpikir buruk
tentangmu.
Tapi, bukankah Tuhan tidak pernah sekali pun?
Kemarin,
mungkin waktu sedang tidak bersahabat dengan ku.
Tidak apalah..
Karena semua seperti yang lalu.
Setelah hujan akan ada pelangi.
Aku marah..
Aku kecewa..
Aku terpuruk..
Aku memafkan..
Karena diriku berhak merdeka.
Tanpa perlu melakoni peran orang lain.
Terima kasih untuk melahirkanku dengan seluruh kekurangan dan
kelebihanku.
Terima kasih untuk melahirkanku sebagai orang yang selalu belajar “ber-besar
hati dan memaafkan”.
_Di bawah mendungnya langit_
Nhia Hammado
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks buat komentarx..:)