Rabu, 25 Januari 2012

SMART TALK


Smart Communication: Jalan Baru Meminimalisir Tingkat Tawuran Mahasiswa
oleh :Nurul Ichsania Hammado
Media nampaknya sudah tidak asing dengan pemberitaan fenomenal mengenai maraknya tawuran yang dilakukan oleh para mahasiswa yang menimbulkan korban baik secara materil maupun korban jiwa. Penampakan dari berjatuhannya korban jiwa diwarnai dengan tangisan-tangisan dari keluarga korban yang harus bahkan kehilangan orang yang sangat mereka sayangi. Bahkan keluarga pelaku pun tak urung dibuat menderita akibat malu yang harus ditanggung oleh mereka akibat ulah anak, adik, ataupun teman mereka. Sungguh tidak ada sisi positif yang disuguhkan dari tindakan tawuran yang sering terjadi. Akan tetapi, entah mengapa semakin jelas sisi buruk tindakan tawuran, semakin marak dilakukan oleh mahasiswa.
Yang paling memalukan adalah tindakan ini dilakukan oleh kaum terpelajar seperti mahasiswa hingga para pelajar sekolah tingkat menengah atas dan pertama. Kebanyakan dari mereka melakukan aksi tawuran karena rasa solidaritas satu sama lain. Akan tetapi, pernahkah mereka berpikir justru tindakan mereka hanya akan melahirkan masalah baru yang dapat memperkeruh solidaritas sesama warga negara Indonesia. Bahkan, tindakan anarkis ini ikut mencemarkan nama baik kota yang tercinta ini, kota Makassar yang notabene menjunjung paham siri na pacce. Lantas apakah para kaum terpelajar ini khususnya mahasiswa telah melupakan salah satu fungsi utama mereka sebagai agent of change? Jika ini memang benar-benar telah terjadi, maka kota Makassar dalam teleskop ke depan akan menjadi kota brutal. Bahkan lebih buruknya lagi, kota Makassar bukan lagi menjadi kota pariwisata, akan tetapi menjadi kota sarang preman.
Jika semua kebiasaan buruk seperti tawuran tidak dapat dihindari, maka hal ini akan merubah image kota Makassar menjadi kota yang rawan dan tidak aman untuk dikunjungi. Tentu saja, hal tersebut akan mempengaruhi jumlah income di wilayah kota Makassar, khususnya dalam bidang pariwisata. Dampak jangka panjang yang dapat dirasakan adalah kerugian yang akan melanda pedagang-pedagang mulai dari tingkat menengah ke bawah hingga menengah ke atas akibat kurangnya wisatawan yang menjadi sumber pemasukan para pedagang di kota ini. Semua itu sama saja dengan meningkatkan angka jumlah pengangguran akibat kehilangan pekerjaan. Sungguh sangat fatal akibat yang mungkin saja ditimbulkan aksi tawuran jika tidak dicegah.
Apabila diteliti lebih dalam mengenai penyebab terjadinya aksi tawuran, kebanyakan dari kasus-kasus tawuran dipicu oleh dendam yang turun-temurun atau masalah kecil akibat kesalahpahaman dari kedua belah pihak yang melakukan tawuran. Ada juga hal lain yang bertindak sebagai pemicu adalah akibat hasutan-hasutan yang diniatkan untuk mengadu domba kedua belah pihak agar terjadi perpecahan antara satu sama lain. Entah apa motif yang diinginkan oleh sang pengadu domba, yang pasti tujuan mereka harus tercapai tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang dapat menimpa kedua belah pihak. Bahkan dapat juga menimpa dirinya sendiri.
Apabila dianalisis lebih jauh dan mendalam hampir semua aksi itu didasari karena kurangnya komunikasi yang baik antara satu sama lain. Mereka tidak dibiasakan untuk saling mengkomunikasikan pendapat secara terbuka, jujur, dan beretika. Mereka hanya mengungkapkan apa yang ada dalam kepala mereka. Ini yang disebut dengan menurunnya cara bepikir kritis mahasiswa. Ada juga yang sudah melampaui cara berpikir kritis. Akan tetapi, mereka tidak ditanamkan sebelumnya bagaimana cara berpikir kritis yang santun. Padahal tidak semua bentuk kekecewaan dapat diungkapkan atau diluapkan dengan aksi kekerasan. Pertumbuhan berbagai media yang kini telah menjamur, dapat mereka manfaatkan untuk aksi peluapan kekecewaan mereka.
Kemudian, materi manajemen diri di tingkat universitas nampaknya mulai menurun. Siapa yang mengira, ini menjadi salah satu faktor yang memicu tingkat tawuran antar mahasiswa. Menurut mereka solidaritas yang paling uatama. Namun, untuk membina solidaritas yang baik tidak harus mengikuti semua keinginan kawan sebagai bentuk pembuktian. Bukankah kawan yang baik adalah mereka yang mampu mengingatkan kita saat mulai kehilangan arah. Mahasiswa sibuk dibekali dengan seabrek materi ilmiah yang harus mereka pertanggung jawabkan. Tanpa ada pembekalan lanjut bagaimana mereka dapat mempertanggung jawabkan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan. Alhasil, lahirlah sejumlah nama peneror bom yang berasal dari kaum-kaum cerdas dan terpelajar. Tetapi, mereka kurang dalam pemahaman dalam manajemen diri.
Menuju ke tingkat yang lebih luas lagi, kurikulum yang diciptakan di tiap tingkat-tingkat pendidikan memberikan porsi pada materi manajemen diri, kewarganegaraan, agama, atau bahkan pengelolaan emosional dengan jumlah yang sedikit di bandingkan materi ilmiah. Inilah yang seringkali menjadi penyebab kemunduran kualitas pendidikan di negara Indonesia. Tawuran sendiri lahir dari bentuk pendidikan yang kurang baik dalam hal manajemen diri. Mengapa hal ini tidak pernah terpikirkan secara spesifik oleh tenaga pendidik yang dimiliki negeri ini. Mengapa lantas banyak para cendekiawan dan professor yang minggat ke negara-negara maju dan malah meninggalkan negara terinta ini? Padahal mereka di sekolahkan dengan harapan agar kelak dapat memperbaiki sistem yang ada di negara ini. Semua disebabkan oleh kurangnya komunikasi sesama. Semua ini dapat dicegah seandainya saja diantara mereka mampu mengkomunikasikan apa sebenarnya penyebab masalah dan disorder system, sehingga diantara mereka lahir sebuah keputusan yang saling menguntungkan. Jangan sampai negara ini akan berujung pada limbungnya sistem dan tatanan yang sudah dibangun sejak dulu hanya karena persoalan kurangnya komunikasi diantara sesama.
Tidak ada hal yang tidak dapat diperbaiki jika memang ada niat. Akan tetapi, bagaimanakah cara yang tepat untuk mnyelesaikan permasalahan yang sudah berakar ini? Kembali kepada objek tawuran dan pengefisienan tingkat komunikasi. Pada tingkat universitas, perlu adanya sedikit modifikasi sistem pengajaran yang dahulu berbasis kompetensi pada intelegence dapat digantikan dengan sistem pengajaran yang berbasis pelatihan dengan tetap menyisipkan teknik manajemen diri dan komunikasi yang baik. Jenis komunikasi yang baik disini dapat disebut dengan smart communication.
Smart communication adalah jenis penyampaian informasi yang melibatkan seluruh indera dan tatanan nilai santun dalam perwujudannya. Saat komunikasi dilakukan, pihak yang melakukan komunikasi disarankan untuk dapat menyampaikan informasi dengan lugas dan bernilai adat secara santun. Komunikasi yang baik ini juga dapat disampaikan dalam nuansa humoris. Akan tetapi, tetap mempertahankan nilai santun dan berbudaya yang menandakan bahwa warga kota yang berbudaya. Bukankah kota Makassar adalah kota bersejarah dengan berbagai adat dan buadaya yang saling mengikat dalam tatanan yang lebih mengakrabkan.
Smart communication dapat diterapkan tidak hanya dalam lingkup universitas atau lembaga-lembaga pendidikan. Akan tetapi, langkah ini dapat dibiasakan sejak dini pada anak dalam ruang lingkup yang paling sederhana, ruang lingkup keluarga. Karena pendidikan pertama yang membentuk dan memberikan warna pada anak adalah keluarga. Interaksi pertama yang dialami seorang anak adalah interaksi anak dan ibunnya pada saat anak masih dalam kandungan ibunya. Interaksi-interaksi kecil seperti merasakan emosional atau guncangan-guncangan ibu saat dalam rahim ibu, dapat dikategoikan sebagai tingkat komunikasi paling sederhana. Kemudian interaksi anak dengan ayah, saudara dan keluarga yang dimilikinya merupakan tingkat komunikasi berikutnya yang membangun karakter anak.
Dari komunikasi yang positif, dapat lahir seorang negosiator ulung yang diharapkan dapat mencegah terjadinya tawuran. Bahkan cita-cita yang lebih luas, diharapkan sang negosiator ini dapat meminimalisir berbagai perpecahan dan perang serta aksi teror-teror yang marak terjadi saat ini. Karena sesungguhnya masalah besar tersebut hadir dari masalah-masalah kecil yang kemudian terus terakumulasi dan membentuk masalah besar.
Pihak berikutnya yang wajib untuk mengenal smart communication adalah pihak penerima informasi. Jadi, tidak hanya pihak pemberi informasi (informan) yang dituntut untuk paham prinsip smart communication, namun pihak penerima informasi pun dianggap penting untuk memahami prinsip dari smart communication. Alasannya, karena sang penerima informasi harus mampu menyaring (filterisasi) segala informasi yang diberikan kepadanya. Sehingga dapat mencegah kesalahpahaman. Semua itu, dilakukan sebagai bentuk konsistensi dari penerapan manajemen diri. Sehingga, saat informasi yang diberikan dianggap tidak memiliki manfaat yang lebih untuk khalayak banyak, maka sekiranya informasi tersebut tidak penting untuk diserap dan diolah. Karena apabila hal ini dilakukan, semua itu sama saja dengan membuang-buang waktu atau yang lebih parahnya lagi hanya akan melahirkan masalah baru yang lebih gawat nantinya. Semua pengetahuan mengenai bagaiamana menyaring informasi, kembali lagi dapat diperoleh dan ditingkatkan melalui penguasaan materi teknik manajemen diri.
Teknik manajemen diri merupakan usaha atau upaya yang dilalui seseorang untuk dapat mengendalikan dan menguasai tingkat emosional mereka yang tadinya lahir dalam bentuk negatif menjadi bentuk yang lebih positf. Contohnya saja, seorang yang tadinya memiliki kekurangan dalam hal analisis angka, karena dia telah memahami teknik manajemen diri, maka dia akan mencari kelebihan lainnya untuk selanjutnya dia kembangkan. Mungkin saja kecerdasan yang dimilikinya adalah bentuk kecerdasan intrapersonal. Sehingga, orang tersebut kini mampu membangun koneksi dan jaringan kepada orang-orang yang memiliki kemampuan lebih dalam analisis angka, sehingga koneksi-koneksi yang ia dapatkan dapat kemudian ia manfaatkan untuk membantu meng-up grade kemampuannya dalam hal analisis angka. Trik-trik seperti inilah yang kebanyakan dimanfaatkan oleh para pengusaha-pengusaha sukses atau pemimpin-pemimpin badan yang namanya tengah menanjak saat ini.
Kemudian mereka yang telah menguasai teknik manajemen diri yang baik, dapat dipastikan memiliki tingkat komunikasi yang baik. Rata-rata dari mereka memiliki kemampuan berkomunikasi yang bermutu, terarah, santun, dan lebih mudah untuk membujuk orang lain mengikuti apa yang diinginkannya ke arah yang lebih baik. Jadi, tidak hanya bagaimana seseorang lihai dalam berbicara, akan tetapi kualitas isi pembicaraan dan cara penyampaian juga mempengaruhi penilaian tidakan dan pelabelan seseorang terhadap pribadi orang lain. Dan smart communication  merupakan langkah mutakhir untuk mencegah terjadinya tawuran dan menurunkan angka tindakan kriminalitas khususnya di kalangan kaum terpelajar.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks buat komentarx..:)