Jalan
setapak itu memberikan inspirasi. Pagi itu aku baui embun yang masih pekat
saling berikatan. Masih di jalan yang selalu aku tapaki setiap harinya, hanya
saja ada yang berbeda pagi ini. Entah mengapa, sekelebat ide melahirkan argumen
demi argumen. Iseng saja, kemudian aku rangkai menadi satu bacaan segar untuk
sejenak kita renungi. Pagi yang menakjubkan.
Dimulai
dengan jadwal yang begitu padat, tepat pukul 07.00 WIB di pagi hari, angkot
jurusan Ciampea pun menjadi pilihan untuk menghindari kemacetan dan efisiensi
waktu. Kota yang konon kabarnya adalah kota seribu angkot, tempat dimana
inspirasi demi inspirasi lahir selama masa rantau untuk masa depan yang lebih
baik. Sempurna, pagi ini tidak ada macet. Dan seperti biasanya, setiap jejak
dalam perjalanan menjadi objek pengamatanku.
Tibalah aku
pada jalan yang selalu aku pilih untuk mempersingkat rute tempuh menuju gedung
perkuliahan. Satu, dua, tiga, dan empat langkah, melalui puluhan spesies mahluk
hidup yang saling bersimbiosis satu sama lain. Kemudian, upss..saya terpeleset.
Segera bangkit dari terjatuh tadi, bergegas membersihkan bagian lutut celana
(karena saat terpeleset, aku mengusahakan jatuhku harus bertumpu pada lutut
guna menghindari cedera parah, seperti keseleo dan lainnya). Medan yang dilalui
memang berlumut pagi ini, jadwal rutin hujan di kota Bogor menjadi alasan
banyaknya tumbuh spesies lumut.
Saat aku
berdiri, sontak saja dialog antara aku dan otakku berlangsung. Seolah diatur
sedemikian rupa, proses rekapitulasi kejadian muncul berbarengan dengan
munculnya senyum simpul di wajah. Bagaimana tidak, aneh saja rasanya tiba-tiba
sederet rekaman kejadian ulang terputar tahap demi tahap. Sejenak aku renungi,
tepat saat titik bias sang fajar jatuh di permukaan danau Fakultas Perikanan. Anggun
nian cahayanya, membuatku lupa sakitnya terpeleset tadi. Airnya yang beriak,
tanda tak dalam menambah keeksotikan ciptaan-Nya.
Dan renungan
dimulai…
Hidup itu
seperti jalan yang kita tempuh setiap harinya dari kost menuju kampus. Medannya
berbeda-beda, tergantung siapa yang menjalaninya. Cara pemilihan jalan yang
akan dilalui pun berbeda antara satu individu dengan yang lainnya. Tergantung prinsip
yang diemban sang empunya kaki. Tapi, pada dasarnya ada hal yang menyamakan
antara yang satu dengan yang lainnya, yaitu bagaimana mengupayakan melalui
jalan yang tercepat, termudah, dan dapat dinikmati diri sendiri.
Ada yang
memilih sedikit bersusah-susah dengan berjalan kaki, karena ingin mencoba
menikmati perjalanannya. Ada juga yang dengan alasan menghemat ongkos. Ada yang
memilih menggunakan ojek, karena cepat, tidak perlu berdesak-desakan, dan agak
ribet jika harus berinteraksi dengan orang banyak. Ada pula yang memilih menggunakan
bus dalam kampus, karena ia menikmati saat berdesakan dan berkompetisi dengan
orang lain, saat menanti depan pemberhentian bus, atau saat menikmati keindahan
lainnya yang ada di dalam bus.
Tidak jarang
cara kita memilih jalan yang dilalui dipengaruhi oleh “dengan siapa kita
menempuh perjalanan”. Jika teman seperjalanan kita menyarankan satu rute jalan,
dan menurut otak cukup masuk akal, maka akan kita pilih jalan itu. Tidak jarang
pula, teman seperjalanan tadi ditinggalkan karena tidak sependapat dengan arah
yang telah kita tentukan sebelumnya. Tentunya sesuai dengan banyak
pertimbangan.
Pengalaman juga
menjadi satu dari sekian banyak alasan mengapa jalan itu terpilih untuk
dilalui. Entah itu karena kejadian yang membangkitkan rasa bahagia, atau karena
ada ketakutan ketika melewati jalan itu. Seringkali juga ada kejadian-kejadian
yang menghambat perjalanan menuju tujuan kita. Entah itu karena tersandung
kerikil atau malah seperti kejadian yang menimpaku pagi ini, terjatuh.
Tidak
penting bagaimana saat kita terjatuh saat kejadian itu berlangsung, tetapi
bagaimana kita bersegera berdiri, membenarkan posisi, dan membersihkan sisa
kotoran saat terjatuh. Namun, terkadang ada luka atau lecet kecil hingga besar
saat kita terjatuh. Sakitnya pasti terasa, tetapi sensasinya berbeda setiap
orangnya. Ada yang berlebihan menanggapinya, ada yang cuek saja seolah tidak
merasakan apapun. Terkadang lukanya pun memberikan bekas, yang entah bisa
hilang atau tidak, yang pasti setiap orang memiliki usaha untuk mengobatinya.
Nantilah
setelah lama kita beranjak dari tempat kita terjatuh, barulah aksi merenungi
itu muncul. Semua itu dilakukan oleh manusia, agar mereka dapat menghindari
kejadian tidak mengenakkan tersebut. Bahkan, ada yang baru melakukan refleksi
diri, sehari atau bahkan seminggu setelah ia terjatuh. Setidaknya, ketika sakit
itu masih terasa.
Dan tibalah
ketika kita mencapai tempat yang dituju. Syukur benar-benar menyelimuti relung
hati, menjumpai orang-orang yang menyemangati dan menjadi alasan kita berjuang
sejauh ini. Bersyukur karena masih diberi kesempatan memilih rute yang akan
dijalani. Bersyukur telah dipertemukan orang-orang, baik yang baru maupun yang telah
lama dikenali, ketika menempuh perjalanan tadi. Tentunya bukan tanpa tujuan
yang jelas, seseorang memilih dan melalui jalan yang telah dipilihnya. Itulah muasabah
“JALAN” pagi ini.
Nhia Hammado
Dramaga, IPB Bogor 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks buat komentarx..:)