Rabu, 23 Oktober 2013

LIVE WAY

Jalan setapak itu memberikan inspirasi. Pagi itu aku baui embun yang masih pekat saling berikatan. Masih di jalan yang selalu aku tapaki setiap harinya, hanya saja ada yang berbeda pagi ini. Entah mengapa, sekelebat ide melahirkan argumen demi argumen. Iseng saja, kemudian aku rangkai menadi satu bacaan segar untuk sejenak kita renungi. Pagi yang menakjubkan.

Dimulai dengan jadwal yang begitu padat, tepat pukul 07.00 WIB di pagi hari, angkot jurusan Ciampea pun menjadi pilihan untuk menghindari kemacetan dan efisiensi waktu. Kota yang konon kabarnya adalah kota seribu angkot, tempat dimana inspirasi demi inspirasi lahir selama masa rantau untuk masa depan yang lebih baik. Sempurna, pagi ini tidak ada macet. Dan seperti biasanya, setiap jejak dalam perjalanan menjadi objek pengamatanku.

Tibalah aku pada jalan yang selalu aku pilih untuk mempersingkat rute tempuh menuju gedung perkuliahan. Satu, dua, tiga, dan empat langkah, melalui puluhan spesies mahluk hidup yang saling bersimbiosis satu sama lain. Kemudian, upss..saya terpeleset. 

Segera bangkit dari terjatuh tadi, bergegas membersihkan bagian lutut celana (karena saat terpeleset, aku mengusahakan jatuhku harus bertumpu pada lutut guna menghindari cedera parah, seperti keseleo dan lainnya). Medan yang dilalui memang berlumut pagi ini, jadwal rutin hujan di kota Bogor menjadi alasan banyaknya tumbuh spesies lumut.

Saat aku berdiri, sontak saja dialog antara aku dan otakku berlangsung. Seolah diatur sedemikian rupa, proses rekapitulasi kejadian muncul berbarengan dengan munculnya senyum simpul di wajah. Bagaimana tidak, aneh saja rasanya tiba-tiba sederet rekaman kejadian ulang terputar tahap demi tahap. Sejenak aku renungi, tepat saat titik bias sang fajar jatuh di permukaan danau Fakultas Perikanan. Anggun nian cahayanya, membuatku lupa sakitnya terpeleset tadi. Airnya yang beriak, tanda tak dalam menambah keeksotikan ciptaan-Nya.

Dan renungan dimulai…

Hidup itu seperti jalan yang kita tempuh setiap harinya dari kost menuju kampus. Medannya berbeda-beda, tergantung siapa yang menjalaninya. Cara pemilihan jalan yang akan dilalui pun berbeda antara satu individu dengan yang lainnya. Tergantung prinsip yang diemban sang empunya kaki. Tapi, pada dasarnya ada hal yang menyamakan antara yang satu dengan yang lainnya, yaitu bagaimana mengupayakan melalui jalan yang tercepat, termudah, dan dapat dinikmati diri sendiri.

Ada yang memilih sedikit bersusah-susah dengan berjalan kaki, karena ingin mencoba menikmati perjalanannya. Ada juga yang dengan alasan menghemat ongkos. Ada yang memilih menggunakan ojek, karena cepat, tidak perlu berdesak-desakan, dan agak ribet jika harus berinteraksi dengan orang banyak. Ada pula yang memilih menggunakan bus dalam kampus, karena ia menikmati saat berdesakan dan berkompetisi dengan orang lain, saat menanti depan pemberhentian bus, atau saat menikmati keindahan lainnya yang ada di dalam bus.

Tidak jarang cara kita memilih jalan yang dilalui dipengaruhi oleh “dengan siapa kita menempuh perjalanan”. Jika teman seperjalanan kita menyarankan satu rute jalan, dan menurut otak cukup masuk akal, maka akan kita pilih jalan itu. Tidak jarang pula, teman seperjalanan tadi ditinggalkan karena tidak sependapat dengan arah yang telah kita tentukan sebelumnya. Tentunya sesuai dengan banyak pertimbangan.

Pengalaman juga menjadi satu dari sekian banyak alasan mengapa jalan itu terpilih untuk dilalui. Entah itu karena kejadian yang membangkitkan rasa bahagia, atau karena ada ketakutan ketika melewati jalan itu. Seringkali juga ada kejadian-kejadian yang menghambat perjalanan menuju tujuan kita. Entah itu karena tersandung kerikil atau malah seperti kejadian yang menimpaku pagi ini, terjatuh.

Tidak penting bagaimana saat kita terjatuh saat kejadian itu berlangsung, tetapi bagaimana kita bersegera berdiri, membenarkan posisi, dan membersihkan sisa kotoran saat terjatuh. Namun, terkadang ada luka atau lecet kecil hingga besar saat kita terjatuh. Sakitnya pasti terasa, tetapi sensasinya berbeda setiap orangnya. Ada yang berlebihan menanggapinya, ada yang cuek saja seolah tidak merasakan apapun. Terkadang lukanya pun memberikan bekas, yang entah bisa hilang atau tidak, yang pasti setiap orang memiliki usaha untuk mengobatinya.

Nantilah setelah lama kita beranjak dari tempat kita terjatuh, barulah aksi merenungi itu muncul. Semua itu dilakukan oleh manusia, agar mereka dapat menghindari kejadian tidak mengenakkan tersebut. Bahkan, ada yang baru melakukan refleksi diri, sehari atau bahkan seminggu setelah ia terjatuh. Setidaknya, ketika sakit itu masih terasa.

Dan tibalah ketika kita mencapai tempat yang dituju. Syukur benar-benar menyelimuti relung hati, menjumpai orang-orang yang menyemangati dan menjadi alasan kita berjuang sejauh ini. Bersyukur karena masih diberi kesempatan memilih rute yang akan dijalani. Bersyukur telah dipertemukan orang-orang, baik yang baru maupun yang telah lama dikenali, ketika menempuh perjalanan tadi. Tentunya bukan tanpa tujuan yang jelas, seseorang memilih dan melalui jalan yang telah dipilihnya. Itulah muasabah “JALAN” pagi ini.

Nhia Hammado

Dramaga, IPB Bogor 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks buat komentarx..:)