Rabu, 28 Oktober 2015

Fantasi


Bogor, mendung yang menggantung, hujan tak kunjung, redup pun iya. Memandang malas ke luar berarah ke jendela angkutan Trans Pakuan. Kedua kabel aku kaitkan ke telinga, perlahan musik mengalun dari lubang-lubangnya. Sejauh mata memandang, inilah kota hujan yang lama tak hujan. Bosan, lapar, sendu, dan..hei, lihat itu manusia juga jejal-menjejal menaiki angkutan umum. Aktivitas yang membuatku terbiasa membaui berjuta aroma manusia sejak di kota ini.
Tidak ada yang istimewa di hari yang tidak begitu istimewa. Setelah apa yang aku alami, kelaparan tingkat dewa nyaris kufur. Kemudian memesan makanan yang naudzubillah panas luar biasa. Bagaimana mungkin aku melahapnya, sedangkan asapnya mengepul bak rangkaian gerbong kereta uap. Belum lagi kecerobohanku memesan jenis makanan yang salah ahh..menggenapkan rasa gamang bercampur gerutu dalam hati. Tapi, sudahlah! Toh, setidaknya lapar tidak jadi pun karena diobati masakan itu. Sekarang tujuanku adalah memuaskan hasratku akan makanan “enak yang aku idamkan”. Hitung-hitung sebagai obat kegusaranku tadi. Rentetan ketidakistimewaan itu berubah menjadi bersinar manakala mataku saling berpautan dengan mata beningnya.
“Masya Allah..”, pekikku dalam hati. Alis tebal, hidung mancung, rupa bak artis Arab, memakai ransel keren, kupluk, headset, buku bacaan di tangan, dan yang terpenting dia tersenyum manis ke arahku. Ehh, benarkah itu untukku? Aku..cuma bisa..SENYUM SIMPUL. Entahlah, grogi atau jual mahal. Batin dan logika ku sedang tidak sinkron. Tuhan, tolong hamba-Mu ini, selamatkan dari moment ”zink” yang aneh.
Sepanjang perjalanan, aku curi kesempatan memandangnya. Sesekali dari pantulan kaca bus, sesekali aku sengaja meliriknya dari jauh. Ahh, sayang..dia terlampau jauh jaraknya dariku. Aku duduk, dia berdiri berpegangan pada langit-langit bus. Hingga perhentian berikutnya, lamunanku buyar. Tenang, dia belum turun kok di perhentian kali ini. Tapi, ada seorang gadis yang naik, dan gadis itu menyapanya. Arrggh..Tuhan, momen ”jleb” apalagi ini. Tak tanggung-tanggung, dia mengecup kening gadis itu. Adakah yang membayangkan bagaimana aku patah hati. Tentu tidak, karena semua pembaca merasa aku tidak sepatutnya sakit hati, dia hanya memberi senyum tadi kan (haha..).
Pemandangan yang sama berlangsung hingga perhentian bus terakhir, dimana semua pengguna bus tersebut turun. Aku..hanya melempar pandangan selidik, dan dia..bodoh! Dia memberiku senyuman maut lagi. Sekarang bisa aku pastikan, pembaca akan gemes dengan gelagatnya. Tapi tahukah kalian apa yang terpikirkan olehku kira-kira seperti ini:
“hai lelaki empunya senyum maut, siapa pun dia, entah itu adikmu, kakakmu, pacarmu, kekasihmu, istrimu, selingkuhanmu, ataulah sekedar sahabatmu, ketahuilah..aku tidak peduli dia. Kamu tahu kenapa? Karena senyum mu sore ini adalah milikku, seutuhnya, sepenuhnya, apakah kamu setuju denganku? Jika iya, cukup kabarkan pada penghujung senja, karena seyogyanya aku selalu berdiri memeluk senyum manis mu bersama ufuk barat”.
Aku mungkin tak akan lagi pernah bertemu dengannya. Atau mungkin akan bertemu dengannya. Atau kami berjodoh (haha..). Terserahlah apa kata sore, karena malam adalah milikku. Dibatas temaram senja.

­_Nhia Hammado_
27 Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks buat komentarx..:)