Bogor, mendung
yang menggantung, hujan tak kunjung, redup pun iya. Memandang malas ke luar
berarah ke jendela angkutan Trans Pakuan. Kedua kabel aku kaitkan ke telinga,
perlahan musik mengalun dari lubang-lubangnya. Sejauh mata memandang, inilah
kota hujan yang lama tak hujan. Bosan, lapar, sendu, dan..hei, lihat itu
manusia juga jejal-menjejal menaiki angkutan umum. Aktivitas yang membuatku
terbiasa membaui berjuta aroma manusia sejak di kota ini.
Tidak ada yang
istimewa di hari yang tidak begitu istimewa. Setelah apa yang aku alami,
kelaparan tingkat dewa nyaris kufur. Kemudian memesan makanan yang naudzubillah panas luar biasa. Bagaimana
mungkin aku melahapnya, sedangkan asapnya mengepul bak rangkaian gerbong kereta
uap. Belum lagi kecerobohanku memesan jenis makanan yang salah
ahh..menggenapkan rasa gamang bercampur gerutu dalam hati. Tapi, sudahlah! Toh,
setidaknya lapar tidak jadi pun karena diobati masakan itu. Sekarang tujuanku
adalah memuaskan hasratku akan makanan “enak yang aku idamkan”. Hitung-hitung
sebagai obat kegusaranku tadi. Rentetan ketidakistimewaan itu berubah menjadi
bersinar manakala mataku saling berpautan dengan mata beningnya.
“Masya
Allah..”, pekikku dalam hati. Alis tebal, hidung mancung, rupa bak artis Arab,
memakai ransel keren, kupluk, headset, buku bacaan di tangan, dan yang
terpenting dia tersenyum manis ke arahku. Ehh, benarkah itu untukku? Aku..cuma
bisa..SENYUM SIMPUL. Entahlah, grogi atau jual mahal. Batin dan logika ku
sedang tidak sinkron. Tuhan, tolong hamba-Mu ini, selamatkan dari moment ”zink”
yang aneh.
Sepanjang
perjalanan, aku curi kesempatan memandangnya. Sesekali dari pantulan kaca bus,
sesekali aku sengaja meliriknya dari jauh. Ahh, sayang..dia terlampau jauh
jaraknya dariku. Aku duduk, dia berdiri berpegangan pada langit-langit bus.
Hingga perhentian berikutnya, lamunanku buyar. Tenang, dia belum turun kok di
perhentian kali ini. Tapi, ada seorang gadis yang naik, dan gadis itu
menyapanya. Arrggh..Tuhan, momen ”jleb” apalagi ini. Tak tanggung-tanggung, dia
mengecup kening gadis itu. Adakah yang membayangkan bagaimana aku patah hati.
Tentu tidak, karena semua pembaca merasa aku tidak sepatutnya sakit hati, dia
hanya memberi senyum tadi kan (haha..).
Pemandangan
yang sama berlangsung hingga perhentian bus terakhir, dimana semua pengguna bus
tersebut turun. Aku..hanya melempar pandangan selidik, dan dia..bodoh! Dia
memberiku senyuman maut lagi. Sekarang bisa aku pastikan, pembaca akan gemes
dengan gelagatnya. Tapi tahukah kalian apa yang terpikirkan olehku kira-kira
seperti ini:
“hai lelaki
empunya senyum maut, siapa pun dia, entah itu adikmu, kakakmu, pacarmu,
kekasihmu, istrimu, selingkuhanmu, ataulah sekedar sahabatmu, ketahuilah..aku
tidak peduli dia. Kamu tahu kenapa? Karena senyum mu sore ini adalah milikku,
seutuhnya, sepenuhnya, apakah kamu setuju denganku? Jika iya, cukup kabarkan
pada penghujung senja, karena seyogyanya aku selalu berdiri memeluk senyum
manis mu bersama ufuk barat”.
Aku mungkin
tak akan lagi pernah bertemu dengannya. Atau mungkin akan bertemu dengannya.
Atau kami berjodoh (haha..). Terserahlah apa kata sore, karena malam adalah
milikku. Dibatas temaram senja.
_Nhia
Hammado_
27 Oktober
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks buat komentarx..:)