Rabu, 28 Oktober 2015

Perempuan: A Gift


Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk…
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…

Ini tentang anak perempuan dan lelaki yang menduduki tempat tak tergantikan di hatinya.
Demikian tulisan ini aku peruntukkan kepada semua anak perempuan dimana pun keberadaannya, sekiranya setelah membaca tulisan sederhana ini, membuat mereka lebih bijaksana dalam bersikap. Insya Allah.

Tersebutlah seorang anak perempuan yang sedari tadi membenarkan ujung hijabnya karena  dimainkan oleh angin sore. Serat-serat kain menutupi sekujur kepalanya, berwarna cerah tak menyilaukan. Entah sudah berapa lama ia telah menutupi auratnya sesuai anjuran agama yang diyakininya. Akan tetapi belum lama ia meng-hijabkan hatinya, belum lama. Perjalanan yang ditempuhnya untuk menguatkan tekad menghijabkan hati tidak-lah muda, semuanya dilalui dengan berbagai proses. Tak urung menyebabkan air mata harus bercucuran, ataukah batin meranggas seperti tak bertuan. Dipeluknya beberapa tumpukan map yang telah beberapa bulan ini setia menemaninya menuju masa depan yang lebih cerah. Pilihannya untuk meninggalkan keluarga jauh disana bukan keputusan mudah baginya. Berjalan di tanah orang, dengan bekal seadanya, berkawan rindu, beramunisi semangat, modal jihadnya untuk dirinya, keluarga, dan agamanya. Seperti pepatah yang diyakininya, “Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri Cina”, mantap ia langkahkan kakinya.

Sebelumnya ia hanyalah perempuan biasa yang sibuk dengan urusan pribadinya tanpa menghiraukan bagaimana lelaki itu membuatnya jadi permata dalam kehidupannya. Banyak hal yang bersifat duniawi dilakukannya untuk mengejar kepuasan dan pencapaian yang bersifat duniawi pula. Bahkan tak jarang, kewajiban akhiratnya tak jua dilakukannya. Alasan sibuk, tak ada waktu, belum mendapat hidayah, atau perjalanan masih panjang adalah beberapa tipu daya sang akalnya untuk mengelabui hati kecilnya yang kemarau akan kehadiran Tuhan.

Perlahan, sang perempuan mulai menyadari ada yang salah dalam pola kehidupannya, tapi ia sendiri masih tertatih menemukan apa gerangan kekurangan itu. Tak ayal ia tanyakan pada dirinya ketika sedang meresapi kesendirian, ataukah ia diskusikan pada kerabat-kerabat dekatnya. Ada yang menganggap itu hal biasa, ada juga yang memberikan beberapa nasihat. Tetapi, nalurinya menuntun ia untuk mencari tahu dengan mengaktifkan diri pada banyak majelis. Dimulai dari majelis ilmu sosial, ilmu politik, hingga ilmu agama. Mungkin sebenarnya ia telah mengetahui apa yang kurang tepat dalam hidupnya. Hanya saja ia terlalu takut untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tetapi Allah sungguh Maha Penolong dan Maha Pemberi Petunjuk. Dituntunnya hidup sang perempuan menuju jalan bercahaya. Terseok memang, tetapi semangat untuk berhijrah juga sama besarnya, sehingga perlahan hidup sang perempuan mulai berubah. Bukankah berhijrah memang berat? Jika tidak, maka proses bukan lagi satu nilai penting dalam kehidupan.

Dari sekian banyak “hijrah” yang dilakukannya, ada satu yang menarik menurutku.

Suatu ketika, sang perempuan dihinggapi rasa malas luar biasa. Malas untuk melakukan apapun, malas untuk beribadah, bahkan malas untuk kebaikan dirinya sendiri. Bisa dibilang, malasnya hingga taraf akut pada waktu itu. Bahkan sesungguhnya ia pun malas membaca satu bacaan yang tergeletak di atas mejanya. Tetapi ada satu bagian tulisan yang dicetak miring tidak sengaja tertangkap oleh ekor matanya. Kurang lebih pernyataannya tertulis seperti ini:

Barangsiapa yang mempunyai anak perempuan, dipelihara, dirawat, dididik, dan dijaga dengan baik, diberi dari apa yang diberikan Allah padanya berupa kenikmatan, maka dia akan mendapatkan perisai kanan dan kirinya dari api neraka hingga surga”.

Seketika itu juga ia teringat pada seorang lelaki yang tak pernah mengeluh, tidak menunjukkan kelelahan, dan ternyata memiliki satu tempat tersendiri di hatinya. Ia menyebutnya AYAH. Teringat bagaimana ia ditimang, dibuai, dididik, hingga dicukupkan segala kebutuhannya oleh ayahnya. Bergegas ia bangkit dari kemalasannya, dibasuhnya kedua tangan sembari mengenang bagaimana wajah sang ayah disana. Dibenahinya seluruh hidupnya semenjak waktu itu. Memang tidak serta merta berubah menjadi “baik”, tetapi bertahap ia penuhi kewajibannya tepat waktu. Setiap kali rasa malas dan lalai merayunya, sigap ia tepis dengan setumpuk keyakinan bahwa apapun yang ia lakukan kini, semoga menjadi pelindung di dunia dan akhirat bagi kedua orang tuanya. Tak luput pula dirinya ia tempa dari semua sisi, ilmu dan iman. Karena ia yakin, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Seperti itulah kiranya, bagaimana sang perempuan memperjuangkan kebaikan dirinya sebagai tabungan untuk menyelamatkan ayahnya dari siksa api neraka melalui do’a anak shalih dan shalihah.

Lalu apa yang terjadi kini pada perempuan itu? Wallahualam..
Hanya dia dan Rabb-nya yang mengetahui. Karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tidak diketahui hamba-Nya. Sungguh Ia Maha Esa. Allahu Akbar.
Ada pelajaran yang disuguhkan sang perempuan tadi. Berhijrah memang sulit, tetapi bukan tidak mungkin mampu kita lalui hanya jika kita bersungguh-sungguh melakukannya.
Apa yang kau harapkan adalah yang akan kau dapatkan. Jika kau mengharap dunia, maka akan kau dapati dunia bersamamu. Tetapi jika yang kau harapkan adalah ridho Allah, maka berlaku-lah sebagaimana apa yang Ia firmankan dalam kitabullah karim.

Bapak, terima kasih untuk seluruh pemeliharaan, perawatan, pendidikan, dan penjagaan yang engkau berikan untukku. Doakan ananda, senantiasa dalam lindungan-Nya, dimudahkan segala urusan dunia dan akhirat agar kita dapat segera berkumpul lagi di bawah atap yang penuh berkah. Amin.

Dramaga, 03 April 2015
Ananda 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks buat komentarx..:)