Di persimpangan langkah ku terhenti.
Rasanya jalan setapak itu akan berujung
pada sebuah ketiadaan.
Bersamaan dengan pupusnya pengharapan
demi pengharapan.
Ketika cemas menyeruak dan kata andai
bersemayam menduduki singgasana akal.
Maka adakah kata “lanjut” akan kita
jumpai di penghujung jalan nanti?
Peluh keringat mulai berderai.
Aku sapui satu per satu kerikil yang ku
temui di setiap kali tapak kaki aku jejal.
Aduhai, kekerasan hati seperti apakah
yang mampu merebahkan kesusahan nak seperti ini.
Lamat-lamat aku tatapi bayangan yang
segaris dengan setumpuk susunan cita-cita.
Aku bawa hendak tetap di jalur raya,
melampaui rimba, menembus batas.
Seorang anak yang konon moyangnya adalah
perantau.
Mencoba peruntungan di tanah asing,
tanpa sanak namun tak berarti tanpa saudara.
Mantap melabuhkan impian masa lampaunya
dengan modal penanya.
Secarik kertas adalah tumpangannya.
Iman dan doa adalah rambunya.
Guratan-guratan pasrah semburat
kekhawatiran menjejali tanah.
Hendak berhenti kakinya ia langkahkan.
Amboi, lihatlah tunas diantaranya!
Tumbuh subur tersiram optimisme.
Riuh ramai angin bertepuk, menggaungkan
lantang semangat tak terpadamkan.
Bahkan kini lajunya tak terbendung.
Aku ikat!
Aku tiupkan!
Perlahan..
Ia tumbuh bersama waktu.
Dewasa ditemani doa dari seberang pulau.
Doa mereka yang berdoa, agar anak itu
tak lupa pulang.
Mawang, Doa mereka yang berdoa, agar
anak itu tak lupa pulang.
Mawang, 14 Agustus 2014
_NAH_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks buat komentarx..:)