Rabu, 28 Oktober 2015

Risau


Di persimpangan langkah ku terhenti.
Rasanya jalan setapak itu akan berujung pada sebuah ketiadaan.
Bersamaan dengan pupusnya pengharapan demi pengharapan.
Ketika cemas menyeruak dan kata andai bersemayam menduduki singgasana akal.
Maka adakah kata “lanjut” akan kita jumpai di penghujung jalan nanti?

Peluh keringat mulai berderai.
Aku sapui satu per satu kerikil yang ku temui di setiap kali tapak kaki aku jejal.
Aduhai, kekerasan hati seperti apakah yang mampu merebahkan kesusahan nak seperti ini.
Lamat-lamat aku tatapi bayangan yang segaris dengan setumpuk susunan cita-cita.
Aku bawa hendak tetap di jalur raya, melampaui rimba, menembus batas.
Seorang anak yang konon moyangnya adalah perantau.
Mencoba peruntungan di tanah asing, tanpa sanak namun tak berarti tanpa saudara.
Mantap melabuhkan impian masa lampaunya dengan modal penanya.
Secarik kertas adalah tumpangannya.
Iman dan doa adalah rambunya.

Guratan-guratan pasrah semburat kekhawatiran menjejali tanah.
Hendak berhenti kakinya ia langkahkan.

Amboi, lihatlah tunas diantaranya!
Tumbuh subur tersiram optimisme.
Riuh ramai angin bertepuk, menggaungkan lantang semangat tak terpadamkan.
Bahkan kini lajunya tak terbendung.
Aku ikat!
Aku tiupkan!
Perlahan..
Ia tumbuh bersama waktu.
Dewasa ditemani doa dari seberang pulau.
Doa mereka yang berdoa, agar anak itu tak lupa pulang.

Mawang, Doa mereka yang berdoa, agar anak itu tak lupa pulang.

Mawang, 14 Agustus 2014
_NAH_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks buat komentarx..:)